Skrining Kanker Serviks di Rumah: Mengenal Metode HPV Self-Collection

BAGIKAN

Skrining kanker serviks terus berkembang untuk membuat pemeriksaan lebih mudah diakses dan lebih nyaman bagi banyak orang. Salah satu perkembangan terbaru adalah HPV self-collection, yaitu pengambilan sampel oleh pasien sendiri untuk pemeriksaan HPV. Metode ini mulai diakui dalam panduan di beberapa negara dan dapat membantu pihak yang merasa tidak nyaman, takut, atau terkendala menjalani pemeriksaan panggul langsung oleh tenaga kesehatan.1,2 

Namun, penting dipahami bahwa ketersediaan skrining kanker serviks di rumah atau HPV self-collection dapat berbeda di setiap negara dan fasilitas kesehatan, termasuk di Indonesia. Tidak semua laboratorium atau klinik menyediakan layanan ini. Karena itu, bila tertarik melakukan HPV test atau HPV DNA test dengan metode self-collection, tanyakan terlebih dahulu kepada fasilitas kesehatan yang tepercaya. 

Apa Itu Skrining Kanker Serviks?

Skrining kanker serviks adalah pemeriksaan untuk menemukan infeksi HPV risiko tinggi atau perubahan sel pra-kanker pada serviks sebelum berkembang menjadi kanker. Pemeriksaan ini penting karena kanker serviks dapat berkembang secara perlahan dan sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.1,4 

Skrining bukan hanya dilakukan saat terdapat keluhan. Tujuan utamanya justru untuk menemukan risiko lebih awal, ketika perubahan sel belum menjadi kanker atau masih dapat ditangani dengan lebih baik. Metode skrining yang umum dikenal meliputi Pap smear, HPV test, dan co-testing atau kombinasi Pap smear dengan HPV test.1 

Apa Itu HPV Self-Collection?

HPV self-collection adalah metode pengambilan sampel vagina oleh pasien sendiri menggunakan alat yang disediakan atau diatur oleh tenaga kesehatan. Sampel tersebut kemudian dikirim atau diproses di laboratorium untuk mendeteksi keberadaan HPV risiko tinggi yang berkaitan erat dengan kanker serviks.2,3 

Metode ini berbeda dari Pap smear. Pemeriksaan Pap smear mengevaluasi perubahan sel serviks, sedangkan HPV test memeriksa keberadaan HPV risiko tinggi. Pada HPV self-collection, sampel yang diambil adalah sampel vagina untuk pemeriksaan HPV, bukan pemeriksaan visual serviks secara langsung. Karena itu, hasilnya tetap perlu diinterpretasikan dan ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan. 

Artikel ini tidak memberikan instruksi teknis penggunaan alat tertentu karena setiap produk dan fasilitas kesehatan dapat memiliki prosedur yang berbeda-beda. Ikutilah panduan resmi dari tenaga kesehatan atau penyedia layanan bila menggunakan metode ini. 

Baca juga: Berapa Kali Perlu Vaksin HPV? Panduan Dosis dan Waktu Vaksinasi Berdasarkan Usia

Apakah Skrining Kanker Serviks Bisa Dilakukan di Rumah?

Di beberapa negara, HPV self-collection mulai menjadi opsi dalam skrining kanker serviks. American Cancer Society pada pembaruan panduan tahun 2025 mencantumkan self-collected HPV testing sebagai opsi untuk individu dengan derajat risiko rata-rata pada usia 25 hingga 65 tahun, dengan interval ulang 3 tahun bila hasilnya negatif.1 Meski demikian, primary HPV testing dengan sampel yang dikumpulkan oleh tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan yang lebih dipilih dalam panduan tersebut.1 

Di Amerika Serikat, FDA juga telah memperluas persetujuan beberapa tes HPV agar dapat digunakan dengan sampel vagina yang dikumpulkan sendiri. Opsi ini awalnya hanya disetujui untuk dilakukan di fasilitas kesehatan, seperti klinik, layanan primer, apotek tertentu, atau mobile clinic.2,3 Artinya, self-collection tidak selalu berarti dilakukan sepenuhnya di rumah. 

Selain metode swab vagina mandiri, perkembangan teknologi skrining juga menghadirkan pendekatan baru berbasis pembalut khusus (pad), seperti GynPad. GynPad dirancang untuk mengumpulkan sampel biologis dari cairan servikovaginal (cairan yang dihasilkan dari area vagina dan leher rahim) yang kemudian dapat dianalisis untuk mendeteksi biomarker (penanda biologis tertentu) tertentu, termasuk yang berkaitan dengan infeksi HPV atau perubahan pada serviks. Metode ini dikembangkan untuk meningkatkan kenyamanan dan penerimaan skrining karena penggunaannya menyerupai penggunaan pembalut biasa. Namun, ketersediaan, validasi klinis, serta jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan GynPad dapat berbeda tergantung fasilitas kesehatan dan regulasi yang berlaku. Oleh karena itu, penggunaannya tetap perlu mengikuti petunjuk resmi dari penyedia layanan kesehatan atau pengembang teknologi terkait. 

Untuk konteks Indonesia, ketersediaan layanan dapat berbeda tergantung rumah sakit, klinik, laboratorium, kota, dan regulasi layanan yang berlaku. Karena itu, masyarakat di Indonesia sebaiknya mengecek langsung apakah fasilitas kesehatan menyediakan HPV DNA test, HPV test, opsi self-collection, atau teknologi baru seperti GynPad yang memiliki jalur pemeriksaan laboratorium dan tindak lanjut medis yang jelas. 

Kelebihan dan Batasan HPV Self-Collection

HPV self-collection dapat menawarkan beberapa kelebihan. Metode ini dapat terasa lebih privat dan nyaman bagi pihak yang enggan menjalani pemeriksaan panggul. Self-collection juga berpotensi meningkatkan akses skrining bagi individu yang memiliki hambatan jarak, waktu, pengalaman tidak nyaman sebelumnya, atau keterbatasan akses ke dokter spesialis.2 

Namun, metode ini juga memiliki batasan. Hasil HPV positif bukan berarti seseorang pasti terkena kanker, tetapi menunjukkan adanya HPV risiko tinggi yang perlu ditindaklanjuti. Pemeriksaan lanjutan dapat mencakup pemeriksaan dokter, Pap smear, kolposkopi (pemeriksaan leher rahim dengan alat pembesar khusus), atau tindakan lain sesuai hasil dan rekomendasi klinis.1 

HPV self-collection juga bukan pengganti semua konsultasi ginekologi. Bila ada gejala seperti perdarahan setelah hubungan seksual, perdarahan di luar siklus, perdarahan setelah menopause, keputihan yang tidak biasa, nyeri panggul, atau nyeri saat berhubungan seksual, pemeriksaan langsung oleh dokter tetap sangat diperlukan.4 

Siapa yang Perlu Skrining Kanker Serviks?

Secara umum, skrining kanker serviks ditujukan bagi individu yang memiliki serviks, terutama pada rentang usia skrining. American Cancer Society merekomendasikan skrining untuk usia 25 hingga 65 tahun pada individu dengan derajat risiko rata-rata.1 Jadwal dan metode pemeriksaan dapat berbeda tergantung riwayat hasil skrining, status imun, riwayat pra-kanker, riwayat kanker serviks, atau kondisi medis tertentu. 

Individu dengan risiko khusus sebaiknya tidak hanya mengikuti rekomendasi umum, tetapi berdiskusi dengan dokter untuk menentukan jadwal yang lebih sesuai. Sebagai contoh, seseorang dengan riwayat hasil skrining abnormal mungkin membutuhkan pemantauan medis yang lebih ketat. 

FAQ Seputar Skrining Kanker Serviks di Rumah

Apakah kanker serviks selalu bergejala? Tidak. Kanker serviks dan perubahan pra-kanker sering tidak bergejala pada tahap awal. Karena itu, skrining tetap penting meskipun tidak ada keluhan fisik.1,4 

Apa bedanya Pap smear dan HPV test? Pemeriksaan Pap smear mengevaluasi perubahan sel pada serviks, sedangkan HPV test memeriksa keberadaan HPV risiko tinggi. HPV self-collection adalah metode pengambilan sampel untuk HPV test, bukan Pap smear.1 

Apakah hasil positif HPV berarti kanker? Tidak. Hasil HPV positif berarti ditemukan HPV risiko tinggi, bukan berarti kanker. Namun, hasil positif perlu ditindaklanjuti sesuai arahan dokter untuk memastikan ada atau tidaknya perubahan sel pada serviks.1 

Kapan perlu skrining kanker serviks? Skrining umumnya direkomendasikan mulai usia 25 tahun hingga 65 tahun untuk individu dengan serviks dan derajat risiko rata-rata. Jadwal dapat berbeda bila terdapat riwayat hasil abnormal atau faktor risiko khusus.1 

Kesimpulan

Skrining kanker serviks di rumah melalui HPV self-collection dapat membantu meningkatkan akses dan kenyamanan pemeriksaan di beberapa negara. Metode ini memungkinkan pasien mengambil sampel sendiri untuk pemeriksaan HPV risiko tinggi, tetapi ketersediaannya dapat berbeda, termasuk di Indonesia. Hasil positif tetap membutuhkan tindak lanjut medis, dan keluhan seperti perdarahan abnormal atau nyeri panggul tetap perlu diperiksa secara langsung. Tanyakan kepada fasilitas kesehatan apakah tersedia opsi HPV test atau HPV DNA test dengan metode self-collection dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing. 

skrining awal kanker

Referensi

  1. American Cancer Society. The American Cancer Society guidelines for the prevention and early detection of cervical cancer [Internet]. Atlanta: American Cancer Society; 2025 [cited 2026 Jun 9]. Available from: https://www.cancer.org/cancer/types/cervical-cancer/detection-diagnosis-staging/cervical-cancer-screening-guidelines.html
  2. Reynolds S. FDA approves HPV tests that allow for self-collection in a health care setting [Internet]. Bethesda (MD): National Cancer Institute; 2024 Jul 24 [cited 2026 Jun 9]. Available from: https://www.cancer.gov/news-events/cancer-currents-blog/2024/fda-hpv-test-self-collection-health-care-setting
  3. U.S. Food and Drug Administration. Cobas HPV for 5800/6800/8800 Systems – P190028/S009 [Internet]. Silver Spring (MD): FDA; 2024 Aug 21 [cited 2026 Jun 9]. Available from: https://www.fda.gov/medical-devices/recently-approved-devices/cobas-hpv-580068008800-systems-p190028s009
  4. American Cancer Society. Signs and symptoms of cervical cancer [Internet]. Atlanta: American Cancer Society; 2025 [cited 2026 Jun 9]. Available from: https://www.cancer.org/cancer/types/cervical-cancer/detection-diagnosis-staging/signs-symptoms.html

Hubungi Kami: +62811 1707 0111