Gejala Influenza A dan B: Kenali Perbedaannya Sebelum Terlambat Ditangani

BAGIKAN

Topik mengenai perbandingan influenza A dan influenza B sering dicari karena banyak orang ingin tahu apakah gejala yang dialami merupakan tanda flu A atau flu B. Namun, secara klinis, gejala dari kedua tipe flu ini sering kali sangat mirip. Keluhan seperti demam, batuk, nyeri tubuh, sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, dan lelah dapat terjadi baik pada infeksi influenza A maupun influenza B.1,4 

Karena gejala klinisnya saling tumpang tindih, jenis virus influenza biasanya tidak dapat dipastikan hanya dari pengamatan gejala semata. Untuk mengetahui apakah seseorang terkena influenza A, influenza B, atau infeksi pernapasan jenis lain, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan medis yang disesuaikan dengan kondisi pasien, durasi munculnya gejala, faktor risiko, serta kebutuhan terapi.1,4 

Apa Itu Influenza A dan Influenza B?

Influenza adalah penyakit pernapasan menular yang secara langsung disebabkan oleh infeksi virus influenza. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa influenza dapat menyebabkan penyakit dari derajat ringan hingga derajat berat, dan sebagian orang memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi serius.1 

Secara umum, tipe virus influenza yang paling sering menyebabkan flu musiman pada populasi manusia adalah influenza A dan influenza B. CDC menyebutkan bahwa influenza A dan B sama-sama memiliki kemampuan untuk memicu kejadian flu musiman.1 Vaksin influenza musiman juga dirancang secara khusus untuk melindungi tubuh terhadap beberapa tipe virus influenza yang diperkirakan akan beredar luas pada musim tersebut. Sebagai contoh, untuk musim 2025–2026, CDC menyebutkan bahwa seluruh vaksin flu bersifat trivalen dan dirancang untuk melindungi tubuh dari dua jenis virus influenza A serta satu jenis virus influenza B/Victoria.2,3 

AspekInfluenza AInfluenza B
Dapat menyebabkan flu musimanYaYa
Gejala pada manusiaSering mirip dengan influenza BSering mirip dengan influenza A
Subtipe/lineageMemiliki subtipe, misalnya A(H1N1) dan A(H3N2)Memiliki lineage, seperti B/Victoria
Cara memastikan tipeTes laboratorium bila diperlukanTes laboratorium bila diperlukan
Diagnosis dari gejala sajaTidak cukupTidak cukup

Gejala Influenza yang Umum Terjadi

Gejala infeksi influenza biasanya muncul secara mendadak dan dapat terasa jauh lebih berat bila dibandingkan dengan kondisi pilek biasa. Gejala klinis yang umum meliputi:1,4

  • Demam atau meriang.
  • Batuk.
  • Sakit tenggorokan.
  • Pilek atau hidung tersumbat.
  • Nyeri otot atau nyeri pada sekujur tubuh.
  • Sakit kepala. 
  • Perasaan lelah yang sangat berat.
  • Pada sebagian individu dapat muncul mual, muntah, atau diare, yang kasusnya ditemukan lebih sering pada anak.

Penting untuk dicatat bahwa tidak semua pengidap influenza selalu mengalami gejala demam. Sebagian pasien mungkin hanya merasa sangat lelah, batuk, nyeri tubuh, atau sakit tenggorokan. Oleh karena itu, evaluasi dan penilaian dari dokter tetap menjadi hal yang sangat penting bila gejala terasa berat, bersifat menetap, atau terjadi pada kelompok yang berisiko tinggi.1 

Baca juga: Kabar Baik: Vaksin Influenza Terbukti Aman untuk Pasien Kanker

Apakah Gejala Influenza A dan B Berbeda?

Secara umum, perbedaan antara flu A dan flu B tidak bisa dipastikan secara akurat apabila hanya mengandalkan penilaian gejala.1,4 Baik influenza A maupun influenza B sama-sama dapat memicu demam, batuk, nyeri tubuh, keluhan sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, dan kelelahan fisik.1,4 

Sebagian besar pembahasan klinis menyebutkan bahwa influenza A memang dapat lebih sering dikaitkan dengan kejadian wabah besar atau pandemi karena sifat biologisnya, sedangkan influenza B beredar terutama pada populasi manusia dan dapat tetap memicu penyakit musiman yang signifikan.4 Namun, pada level pasien individual, gejala fisik yang muncul tidaklah cukup akurat untuk memastikan tipe virus yang menginfeksi.4 

Oleh sebab itu, apabila seseorang ragu apakah mengidap flu A atau flu B, langkah yang paling aman adalah menyadari bahwa diperlukan pemeriksaan medis lebih lanjut apabila penentuan tipe virus tersebut memang krusial untuk keputusan klinis. Dokter nantinya akan menilai apakah serangkaian tes influenza diperlukan dengan menimbang gejala yang ada, waktu sejak awal mula jatuh sakit, risiko munculnya komplikasi, dan situasi penyebaran penyakit di lingkungan sekitar. 

Siapa yang Berisiko Mengalami Komplikasi?

Sebagian besar individu dapat pulih seutuhnya dari influenza melalui perawatan pendukung (suportif).1,4 Namun, terdapat beberapa kelompok yang jauh lebih berisiko untuk mengalami komplikasi serius, seperti halnya infeksi paru (pneumonia), perburukan riwayat penyakit kronis, hingga kondisi yang mengharuskan rawat inap di rumah sakit.1,4 

Kelompok yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi:1,4

  • Anak pada usia dini
  • Kalangan lanjut usia (lansia). 
  • Ibu hamil.
  • Individu dengan riwayat penyakit kronis seperti asma, penyakit paru, penyakit jantung, diabetes, kelainan pada ginjal, atau gangguan sistem kekebalan tubuh.
  • Individu yang mengidap obesitas berat. 
  • Penghuni di fasilitas perawatan jangka panjang.

Bagi para kelompok berisiko tinggi ini, tindakan konsultasi yang dilakukan lebih awal dapat sangat membantu dokter dalam menentukan apakah pasien memerlukan pemeriksaan spesifik, pemantauan ketat, atau terapi medis khusus. Sangat disarankan untuk menghindari pemilihan obat antivirus secara mandiri tanpa adanya arahan langsung dari dokter.1,4 

Kapan Harus ke Dokter?

Segeralah berkonsultasi ke dokter apabila gejala influenza terasa sangat berat, terjadi pada individu di kelompok berisiko, atau bila muncul tanda-tanda bahaya seperti berikut ini:1,4

  • Sesak napas atau ritme napas yang berubah menjadi cepat.
  • Sensasi nyeri pada dada.
  • Pasien tampak kebingungan atau mengalami penurunan tingkat kesadaran.
  • Bibir atau wajah tampak kebiruan.
  • Suhu demam tinggi yang tidak kunjung membaik.
  • Gejala yang tadinya membaik namun tiba-tiba memburuk kembali.
  • Mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), tubuh terasa sangat lemas, atau kesulitan untuk minum cairan.
  • Batuk berat yang kondisinya kian memburuk.
  • Tanda bahaya pada anak: tampak sangat lemas, sulit untuk dibangunkan, napas cepat, sama sekali tidak mau minum, atau gejala yang kian memburuk seiring waktu.

Untuk gejala flu ringan pada orang yang sehat secara umum, memperbanyak waktu istirahat, memastikan kecukupan cairan, dan memantau gejala secara mandiri sering kali menjadi langkah awal yang memadai. Namun, apabila merasa ragu, terutama jika kondisi tersebut terjadi pada kelompok anak, lansia, ibu hamil, atau pasien yang memiliki penyakit kronis, langkah yang paling aman adalah dengan memeriksakan diri ke dokter.1,4 

Pemeriksaan dan Penanganan Awal

Pemeriksaan laboratorium untuk influenza dapat dilakukan apabila dokter menilai hasilnya sangat penting bagi pengambilan keputusan medis, misalnya pada kasus pasien berisiko tinggi, terdapat gejala yang berat, adanya ancaman wabah di lingkungan tertentu, atau untuk memutuskan terapi yang tepat. Pemeriksaan ini juga membantu dokter dalam membedakan antara infeksi influenza A, influenza B, atau kemungkinan penyebab lainnya seperti infeksi COVID-19 dan penyakit pernapasan lainnya.1,4 

Langkah-langkah penanganan awal meliputi: 

  • Istirahat yang cukup di rumah.
  • Minum cairan yang memadai guna mencegah risiko dehidrasi.
  • Menggunakan jenis obat penurun demam atau pereda nyeri sesuai dosis dan usia.
  • Menghindari kontak fisik dan interaksi dekat dengan orang lain saat kondisi masih sakit.
  • Disiplin mengenakan masker apabila terpaksa harus keluar rumah atau saat berada di dekat orang lain.
  • Segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat bila gejala memburuk menjadi berat atau bila pasien termasuk ke dalam kelompok yang berisiko tinggi, seperti anak usia di bawah 5 tahun (terutama di bawah 2 tahun), lansia usia 65 tahun ke atas, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta kronis seperti asma, penyakit jantung, diabetes, atau gangguan kekebalan tubuh.

Pemberian vaksin influenza juga menjadi salah satu langkah pencegahan yang sangat penting. Pihak CDC menyebutkan bahwa vaksin flu efektif dalam menurunkan persentase risiko terinfeksi flu serta menekan kemungkinan komplikasi yang serius, meskipun derajat efikasinya dapat bervariasi pada setiap musim penyakit.Vaksin tidak ditujukan sebagai terapi untuk mengatasi flu yang sedang aktif berlangsung, melainkan berfungsi memberikan perlindungan kekebalan sebelum tubuh terpapar virus pada saat musim flu tiba.1,3 

Lindungi Diri dengan Vaksin Influenza
Ingin mendapatkan vaksin influenza? ONEOnco menyediakan pilihan Vaksin Influenza Trivalent di berbagai fasilitas kesehatan. Saat ini, beberapa layanan Vaksin Influenza Trivalent tersedia dengan diskon 10%, dari Rp527.000 menjadi Rp474.300. Ketersediaan dan harga dapat berbeda berdasarkan lokasi.

Cek Vaksin Influenza & Pesan Sekarang →

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa sebenarnya perbedaan antara flu A dan flu B? Influenza A dan influenza B merupakan dua tipe virus influenza yang secara bersamaan sama-sama dapat memicu kejadian flu musiman. Perbedaan mendasar di antara keduanya lebih berpusat pada karakteristik virologi (biologi virus) serta pola penularannya, dan bukan pada aspek gejala fisik yang mudah dibedakan secara mandiri oleh pasien. Mengingat gejala dari kedua jenis infeksi ini sering kali sangat mirip, konfirmasi kepastian tipenya biasanya akan selalu membutuhkan pemeriksaan laboratorium medis bila memang diperlukan oleh dokter.1,4 

Apakah infeksi influenza A terbukti lebih berbahaya dibandingkan influenza B? Hal ini tidak bisa disimpulkan secara mutlak bagi setiap individu. Influenza A memang kerap kali dikaitkan secara medis dengan kejadian wabah besar dan pandemi, tetapi infeksi influenza B juga memiliki potensi untuk menyebabkan derajat penyakit yang berat, utamanya bila menyerang kelompok yang rentan dan berisiko tinggi. Derajat keparahan suatu penyakit sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor personal seperti usia, kondisi medis penyerta (penyakit yang sudah ada sebelumnya), kondisi kekebalan tubuh (imunitas), kelengkapan vaksinasi, dan bergantung pula pada seberapa cepat pasien tersebut mendapatkan akses ke penanganan medis yang tepat.1,4 

Apakah setiap pasien wajib menjalani pemeriksaan untuk mengetahui jenis influenza yang dialami? Tidak semua pasien diwajibkan untuk menjalani pemeriksaan tersebut. Penggunaan pemeriksaan untuk mengetahui jenis influenza yang dialami umumnya baru akan dipertimbangkan apabila hasilnya akan memengaruhi arah keputusan klinis; contohnya pada pasien dengan kriteria risiko tinggi, menunjukkan gejala yang berat, pasien yang perlu dirawat inap, maupun pada kondisi situasi darurat wabah. Dokter memiliki wewenang untuk menentukan perlu atau tidaknya pemeriksaan untuk mengetahui jenis influenza A atau B.1,4 

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention. About influenza [Internet]. Atlanta (GA): Centers for Disease Control and Prevention; 2026 Feb 26 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.cdc.gov/flu/about/index.html
  2. Centers for Disease Control and Prevention. 2025-2026 flu season [Internet]. Atlanta (GA): Centers for Disease Control and Prevention; 2026 Jan 7 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.cdc.gov/flu/season/2025-2026.html
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Key facts about seasonal flu vaccine [Internet]. Atlanta (GA): Centers for Disease Control and Prevention; 2025 Sep 3 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.cdc.gov/flu/vaccines/keyfacts.html
  4. Paules C, Subbarao K. Influenza. Lancet. 2017 Aug 12;390(10095):697-708. doi: 10.1016/S0140-6736(17)30129-0. Epub 2017 Mar 13. PMID: 28302313.