Perbedaan Kanker Ovarium dan Kanker Serviks: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Deteksinya

BAGIKAN

Perbedaan kanker ovarium dan kanker serviks terletak pada lokasi organ, penyebab utama, gejala, cara deteksi, hingga strategi pencegahannya. Kanker ovarium berasal dari ovarium atau indung telur, sedangkan kanker serviks berasal dari serviks atau leher rahim.1,2,5,6 

Perbedaan paling penting untuk dipahami adalah kanker serviks sangat berkaitan dengan infeksi virus bernama Human Papillomavirus (HPV) yang menetap (kronis) dan dapat dicegah melalui vaksinasi HPV serta skrining rutin. Sebaliknya, kanker ovarium belum memiliki metode skrining rutin yang terbukti mampu menurunkan angka kematian pada populasi dengan risiko rata-rata. Oleh karena itu, deteksi kanker ovarium lebih banyak bergantung pada evaluasi gejala dan faktor risiko, sementara kanker serviks memiliki jalur pencegahan serta deteksi dini yang jauh lebih jelas melalui skrining serviks.3,5,6 

Baca juga: Kanker Ovarium: Gejala, Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mendeteksinya Sejak Dini

Apakah Kanker Ovarium Sama dengan Kanker Serviks?

Tidak. Kanker ovarium tidaklah sama dengan kanker serviks. Keduanya memang sama-sama tergolong sebagai kanker ginekologi (sistem reproduksi wanita), tetapi berasal dari organ yang berbeda dan memiliki pola penyakit yang sama sekali berbeda.1,2,5 

Kanker ovarium dapat bermula dari ovarium, tuba falopi (saluran telur), atau peritoneum (selaput yang melapisi sisi dalam dinding perut) yang sering dibahas secara bersamaan karena berasal dari jaringan yang mirip dan mendapatkan penanganan medis yang serupa.1,2 Sementara itu, kanker serviks terjadi secara spesifik pada leher rahim, yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan saluran vagina.5,6 

AspekKanker OvariumKanker Serviks
LokasiOvarium (indung telur), tuba falopi, atau peritoneum. Serviks (leher rahim). 
Penyebab/faktor utamaMultifaktorial; usia, riwayat keluarga, mutasi genetik (seperti BRCA1/2*), faktor reproduksi, kondisi endometriosis (kondisi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dinding rahim tumbuh di luar rahim, seperti di indung telur atau usus, sehingga memicu nyeri haid hebat dan gangguan kesuburan). Infeksi HPV risiko tinggi yang menetap (kronis) menjadi penyebab utama. 
Gejala khasKembung yang menetap, cepat merasa kenyang, nyeri panggul/perut, perubahan pola BAB/BAK. Perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan di luar masa haid, perdarahan setelah menopause, keputihan yang tidak biasa, nyeri panggul. 
Cara deteksiEvaluasi gejala dan risiko, pemeriksaan panggul, USG, tes darah penanda tumor (CA-125**), pemindaian CT/MRI bila perlu. Skrining tes HPV atau Pap smear, pemeriksaan panggul, kolposkopi*** dan biopsi bila ditemukan hasil abnormal. 
Skrining rutinTidak direkomendasikan untuk populasi risiko rata-rata karena belum terbukti efektif menurunkan angka kematian. Tersedia program skrining rutin dan pencegahan primer melalui vaksin HPV. 
StadiumMenilai tingkat penyebaran di ovarium, panggul, perut, serta ada tidaknya penyebaran jauh (metastasis). Menilai seberapa luas sel kanker pada serviks, jaringan sekitar, kelenjar getah bening, dan penyebaran jauh. 
TerapiOperasi, kemoterapi, terapi target, terapi pemeliharaan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi sistemik yang disesuaikan dengan stadium penyakit. 

*gen yang berperan memperbaiki kerusakan DNA; bila bermutasi, meningkatkan risiko kanker ovarium dan payudara.

**penanda tumor dalam darah yang kadarnya dapat meningkat pada kanker ovarium.

***pemeriksaan serviks menggunakan alat pembesar khusus untuk melihat area abnormal secara lebih jelas

Perbedaan Lokasi dan Fungsi Organ

Perbedaan lokasi antara kanker ovarium dan serviks merupakan dasar utama untuk membedakan keduanya. Ovarium adalah sepasang organ kecil di sisi kanan dan kiri rahim yang berfungsi menghasilkan sel telur serta hormon reproduksi. Kanker ovarium terjadi ketika sel-sel di ovarium atau jaringan terkait mulai tumbuh secara tidak terkendali.1,2 

Serviks adalah leher rahim, yakni bagian paling bawah dari rahim. Kanker serviks biasanya bermula dari adanya perubahan sel pada permukaan serviks, yang sering kali terjadi setelah adanya infeksi HPV risiko tinggi yang menetap selama bertahun-tahun.5,6 

Karena lokasinya yang berbeda, gejala yang timbul serta cara pemeriksaannya pun berbeda. Pemeriksaan Pap smear atau tes HPV secara khusus menilai kondisi serviks, bukan ovarium. Sebaliknya, USG panggul atau USG transvaginal dapat membantu dokter menilai kondisi ovarium, tetapi pemeriksaan ini bukan pengganti untuk skrining serviks.3,5 

Perbedaan Penyebab dan Faktor Risiko

Perbedaan penyebab antara kanker ovarium dan kanker serviks cukup jelas terlihat. 

Pada kasus kanker ovarium, penyebab pastinya tidak selalu dapat ditentukan pada satu orang pasien. Faktor risikonya dapat meliputi usia, riwayat keluarga yang mengidap kanker ovarium atau kanker payudara, mutasi genetik seperti BRCA1 atau BRCA2, endometriosis, serta beberapa faktor reproduksi tertentu.1-4 

Pada kanker serviks, National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa infeksi HPV yang menetap merupakan penyebab dari hampir semua kasus kanker serviks.5 World Health Organization (WHO) juga sangat menekankan bahwa kanker serviks dapat dicegah melalui pemberian vaksinasi HPV serta program skrining untuk menemukan dan menangani lesi prakanker (perubahan sel abnormal yang belum menjadi kanker tetapi berisiko berkembang menjadi kanker bila tidak ditangani) sebelum berkembang menjadi kanker ganas.6 

FaktorKanker OvariumKanker Serviks
Infeksi HPVBukan merupakan penyebab utama. Merupakan penyebab utama pada hampir seluruh kasus. 
Riwayat keluarga/genetikSangat penting, terutama terkait mutasi gen BRCA1/2. Bisa ikut berperan, tetapi infeksi HPV tetap menjadi faktor risiko utama. 
Skrining pencegahanTidak terdapat metode skrining rutin yang efektif bagi pasien dengan risiko rata-rata. Terdapat program skrining efektif berupa tes HPV dan Pap smear
Pencegahan spesifikDilakukan evaluasi risiko dan konseling genetik pada pasien dengan risiko tinggi. Diberikan vaksin HPV, skrining berkala, serta tata laksana untuk lesi prakanker. 

Perbedaan Gejala

Perbedaan gejala kanker ovarium dan kanker serviks dapat membantu pembaca untuk memahami keluhan mana yang perlu segera diperiksa, meskipun kepastian diagnosis tetap harus dilakukan oleh dokter. 

Kanker ovarium sering kali menimbulkan gejala awal yang samar, seperti:2,3  

  • Perut kembung yang menetap. 
  • Cepat merasa kenyang saat makan. 
  • Rasa nyeri pada panggul atau perut. 
  • Ukuran perut yang tampak membesar. 
  • Sering buang air kecil (BAK). 
  • Perubahan pola buang air besar (BAB) seperti konstipasi (sembelit) atau diare. 
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. 

Kanker serviks dapat menimbulkan beberapa gejala klinis seperti:5,6  

  • Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual. 
  • Perdarahan di luar siklus jadwal haid yang normal. 
  • Perdarahan yang kembali muncul setelah memasuki masa menopause. 
  • Keputihan yang tidak biasa atau mengeluarkan bau menyengat. 
  • Nyeri pada area panggul. 
  • Rasa nyeri saat berhubungan seksual. 
  • Pada stadium lanjut, dapat timbul gangguan BAK/BAB atau nyeri yang jauh lebih berat. 

Berbagai gejala di atas tidak secara otomatis berarti pasien mengidap kanker. Namun, keluhan yang bersifat menetap, berulang, kian memburuk, atau terasa tidak biasa sangat perlu untuk segera dievaluasi oleh dokter. 

Perbedaan Cara Mendeteksi

Cara mendeteksi kanker ovarium dan kanker serviks juga berbeda. 

Untuk mendeteksi kanker ovarium, pemeriksaan medis dapat meliputi:1-4 

  • Sesi konsultasi mengenai gejala dan faktor risiko. 
  • Pemeriksaan fisik pada area panggul. 
  • Pemeriksaan USG panggul atau USG transvaginal. 
  • Tes penanda tumor CA-125 sebagai bagian dari evaluasi, bukan sebagai diagnosis tunggal. 
  • Pemindaian CT atau MRI bila terdapat massa jaringan atau ada kecurigaan penyebaran sel abnormal. 
  • Konseling genetik pada pasien dengan risiko tinggi atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau payudara. 

Namun, NCI PDQ menyebutkan bahwa skrining kanker ovarium, kanker tuba falopi, dan kanker peritoneum tidak direkomendasikan sebagai bagian dari skrining kanker rutin pada populasi umum. Selain itu, tes CA-125 serta USG transvaginal pada populasi dengan risiko rata-rata tidak terbukti efektif dalam menurunkan angka kematian akibat kanker ovarium.3 

Untuk kanker serviks, deteksi dan pencegahan dilakukan secara lebih terstruktur melalui langkah: 

  • Tes HPV. 
  • Pemeriksaan Pap smear atau sitologi sel serviks. 
  • Pemeriksaan panggul. 
  • Prosedur kolposkopi apabila hasil skrining menunjukkan hasil abnormal. 
  • Prosedur biopsi apabila ditemukan lesi jaringan yang mencurigakan.5,6 

Dengan kata lain, pemeriksaan Pap smear sama sekali tidak mendeteksi kanker ovarium. Pap smear bertujuan menilai perubahan sel secara spesifik pada area serviks. Apabila keluhan klinis lebih mengarah ke ovarium, dokter perlu mempertimbangkan evaluasi panggul lanjutan, USG, tes CA-125, atau rangkaian pemeriksaan lain yang sesuai dengan kondisi medis pasien.3,5 

Mana yang Lebih Berbahaya?

Pertanyaan terkait “kanker ovarium dan serviks mana yang lebih berbahaya?” tidak bisa dijawab secara mutlak. Derajat bahayanya sangat bergantung pada stadium penyakit saat pertama kali ditemukan, jenis spesifik kankernya, kecepatan pertumbuhan sel, kondisi kesehatan umum pasien, akses terhadap terapi medis, serta bagaimana respons tubuh pasien terhadap terapi yang diberikan.1,2,5,6 

Kanker serviks memiliki jalur pencegahan yang jauh lebih jelas melalui vaksin HPV dan skrining, sehingga banyak kasus dapat dicegah atau ditemukan pada tahap lesi prakanker apabila skrining dilakukan secara tepat waktu.6 Sebaliknya, kanker ovarium sering kali sulit dideteksi pada fase awal karena gejalanya yang samar dan belum tersedianya tes skrining rutin yang terbukti efektif untuk populasi dengan risiko rata-rata.3 

Meskipun demikian, kanker serviks yang telah mencapai stadium lanjut tetap merupakan kondisi yang sangat serius, dan sebaliknya, kanker ovarium yang berhasil ditemukan lebih awal juga dapat memiliki berbagai pilihan penanganan yang menjanjikan. Oleh karena itu, fokus terbaik bukanlah sekadar membandingkan mana penyakit yang lebih berbahaya, melainkan memahami betul tanda-tanda waspada, faktor risiko, dan jenis pemeriksaan yang tepat. 

Perbedaan Terapi dan Kapan Harus Konsultasi

Perbedaan terapi antara kanker ovarium dan kanker serviks sangat bergantung pada penentuan stadium, jenis sel abnormal, derajat penyebaran, kondisi kesehatan pasien, serta tujuan dari terapi itu sendiri. 

Pada kanker ovarium, terapi dapat meliputi tindakan operasi, kemoterapi berbasis platinum (jenis obat kemoterapi yang mengandung unsur platinum, seperti carboplatin atau cisplatin), terapi target seperti bevacizumab (obat terapi target yang menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang menopang pertumbuhan kanker) pada kondisi tertentu, serta terapi pemeliharaan (maintenance therapy) seperti PARP inhibitor (jenis terapi target yang bekerja menghambat enzim perbaikan DNA sel kanker) bila sesuai dengan karakteristik kanker dan respons klinis pasien.1,2,4 

Pada kanker serviks, terapi dapat meliputi prosedur operasi pada stadium tertentu, radioterapi, kemoterapi, kemoradiasi (kombinasi kemoterapi dan radioterapi yang diberikan secara bersamaan), hingga terapi sistemik pada kanker stadium lanjut atau pada kasus kekambuhan berulang.5,6 

Segeralah berkonsultasi ke dokter bila mengalami tanda-tanda berikut: 

  • Keluhan perut kembung menetap, cepat kenyang, nyeri panggul, atau perubahan kebiasaan BAB (buang air besar) / BAK (buang air kecil) yang tidak kunjung membaik. 
  • Perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan di luar siklus haid, atau perdarahan setelah menopause. 
  • Keputihan yang tidak biasa dan bersifat menetap. 
  • Nyeri panggul yang kian memburuk. 
  • Memiliki riwayat keluarga yang mengidap kanker ovarium atau kanker payudara. 
  • Mendapatkan hasil Pap smear atau tes HPV yang abnormal. 

Melalui platform ONEOnco, pasien dapat berkonsultasi terkait gejala yang dirasakan, mendapatkan opini medis kedua (second opinion), atau memilih jenis pemeriksaan kanker wanita yang paling sesuai dengan kondisi. ONEOnco dapat membantu mengarahkan proses diagnosis ke dokter serta fasilitas kesehatan yang tepat agar pemeriksaan tidak terlambat dilakukan sekaligus mencegah prosedur medis yang sebenarnya berlebihan dan tidak diperlukan.

Program Bantuan Pasien ONEOnco
www.oneonco.co.id menyediakan Program Bantuan Pasien dengan harga khusus untuk beberapa produk onkologi tertentu. Bagi pasien yang membutuhkan informasi mengenai ketersediaan obat yang termasuk dalam program, ketentuan, kriteria peserta, serta harga, informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi WhatsApp ONEOnco di +62 811-1707-0111.

Hubungi ONEOnco untuk Informasi Program Bantuan Pasien

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah kanker ovarium sama dengan kanker serviks? Tidak. Kanker ovarium berasal dari ovarium (indung telur) atau jaringan yang terkait, sedangkan kanker serviks berasal dari leher rahim. Penyebab utama, gejala klinis, cara deteksi, dan metode terapinya sangatlah berbeda.1,2,5,6 

Apa beda gejala kanker ovarium dan serviks? Kanker ovarium lebih sering menimbulkan keluhan nonspesifik seperti perut kembung menetap, rasa cepat kenyang, nyeri pada panggul/perut, dan perubahan pola BAB/BAK. Di sisi lain, kanker serviks lebih sering terkait dengan keluhan perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan di luar haid, perdarahan setelah fase menopause, keputihan tidak biasa, dan nyeri pada area panggul.2,3,5,6 

Apakah pemeriksaan Pap smear bisa mendeteksi kanker ovarium? Tidak. Pemeriksaan Pap smear dikhususkan untuk menilai secara langsung perubahan sel pada area serviks, bukan pada ovarium. Untuk menilai kondisi ovarium, dokter spesialis umumnya dapat mempertimbangkan pemeriksaan panggul fisik, USG transvaginal (pemeriksaan USG menggunakan alat yang dimasukkan ke dalam vagina untuk mendapatkan gambaran ovarium yang lebih jelas), tes darah CA-125, pemindaian CT/MRI, atau evaluasi klinis lain yang disesuaikan dengan keluhan serta profil risiko masing-masing pasien.3,5 

Referensi

  1. European Society for Medical Oncology. ESMO Clinical Practice Guideline: epithelial ovarian cancer. Lugano: European Society for Medical Oncology; [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.esmo.org/guidelines/esmo-clinical-practice-guideline-epithelial-ovarian-cancer.
  2. National Cancer Institute. Ovarian epithelial, fallopian tube, and primary peritoneal cancer treatment (PDQ®)–health professional version. Bethesda (MD): National Cancer Institute; 2025 May 14 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.cancer.gov/types/ovarian/hp/ovarian-epithelial-treatment-pdq.
  3. PDQ Screening and Prevention Editorial Board. Ovarian, fallopian tube, and primary peritoneal cancers screening (PDQ®). In: PDQ Cancer Information Summaries. Bethesda (MD): National Cancer Institute; 2025 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK65898/.
  4. González-Martín A, Harter P, Leary A, Sehouli J, Lorusso D, O’Donnell DM, et al. ESMO Clinical Practice Guideline Express Update on epithelial ovarian cancer. ESMO Open. 2026 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12947637/.
  5. National Cancer Institute. Cervical cancer causes, risk factors, and prevention. Bethesda (MD): National Cancer Institute; 2024 Aug 2 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.cancer.gov/types/cervical/causes-risk-prevention.
  6. World Health Organization. Cervical cancer. Geneva: World Health Organization; 2025 Dec 2 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cervical-cancer.