Kanker adalah penyakit yang terjadi ketika sel-sel tidak normal di dalam tubuh tumbuh secara liar dan tidak terkendali.1 Pertumbuhan ini dapat merusak jaringan sehat di sekitarnya dan berpotensi menyebar ke organ tubuh yang lain. Memahami dasar-dasar penyakit kanker sangat penting guna membantu pasien dan keluarga mengambil langkah medis yang tepat dan terarah.1 Perlu diketahui bahwa kanker bukanlah satu kondisi tunggal, melainkan istilah umum untuk berbagai jenis penyakit dengan tingkat keparahan dan pilihan pengobatan yang sangat bervariasi.1,2 Oleh karena itu, penanganan kanker selalu disesuaikan dengan jenis, stadium, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.1,2
Apa Itu Kanker?
Dalam kondisi tubuh yang sehat, sel-sel tumbuh, membelah, dan mati secara teratur. Namun, pada penderita kanker, siklus alami ini rusak sehingga sel terus berkembang dan memperbanyak diri meskipun seharusnya berhenti. Sel-sel yang menumpuk ini kemudian dapat membentuk benjolan (tumor), merusak jaringan sekitar, dan menyebar ke bagian tubuh lain melalui proses yang disebut metastasis.1 Meskipun kanker dapat muncul di hampir semua organ tubuh, tidak semua jenis kanker membentuk benjolan padat; contohnya adalah kanker darah atau leukemia.1,2
Mengapa Sel Berubah Menjadi Kanker?
Perubahan sel normal menjadi sel kanker terjadi akibat adanya gangguan pada materi genetik (DNA) yang mengatur pertumbuhan sel.3 Singkatnya, sel kanker “mempelajari” cara untuk terus tumbuh, menolak sinyal alami tubuh untuk mati, serta merampas suplai nutrisi demi pertumbuhannya sendiri. Sel-sel ganas ini bahkan mampu membentuk pembuluh darah baru untuk menyokong kehidupannya dan menyusup ke jaringan lain. Lingkungan di sekitar tumor, seperti adanya peradangan menahun dan jaringan penunjang di sekitarnya, juga sangat mendukung sel kanker untuk terus bertahan hidup dan menyebar luas.3
Baca juga: Sel Kanker: Apa Itu, Bagaimana Terbentuk, dan Mengapa Bisa Menyebar
Penyebab dan Faktor Risiko
Penting untuk membedakan antara penyebab dan faktor risiko kanker. Penyebab adalah hal-hal yang secara biologis langsung memicu perubahan sel, seperti paparan radiasi, zat kimia (asap rokok, asbestos), atau infeksi virus tertentu (seperti Human Papillomavirus/HPV atau Hepatitis B dan C). Sementara itu, faktor risiko adalah kebiasaan atau kondisi yang meningkatkan peluang seseorang terkena kanker, seperti kebiasaan merokok, obesitas, kurang olahraga, dan faktor usia. Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan terkena kanker, dan sebaliknya, seseorang tanpa faktor risiko yang jelas tetap bisa terkena penyakit ini. Kabar baiknya, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa sekitar 30% hingga 50% kasus kanker sebenarnya dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko dan menerapkan gaya hidup sehat.1
Baca juga: Apa Saja Faktor Risiko Kanker?
Memahami Stadium dan Keganasan (Grade) Kanker
Stadium kanker adalah cara dokter menilai seberapa jauh kanker telah menyebar di dalam tubuh, yang berguna sebagai “peta” untuk menyusun rencana pengobatan terbaik.2 Sistem yang paling umum digunakan adalah sistem TNM, yang menilai tiga hal utama: ukuran Tumor (T), penyebaran ke kelenjar getah bening di sekitarnya (Nodes/N), dan penyebaran ke organ jauh (Metastasis/M).2,4 Umumnya, semakin besar ukuran tumor dan sebaran kelenjar getah beningnya, semakin lanjut pula stadium kankernya.2,4
Banyak yang keliru menyamakan stadium dengan tingkat keganasan (grade).2 Stadium menunjukkan “seberapa jauh kanker telah menyebar”, sedangkan grade menunjukkan “seberapa agresif dan tidak normal sel kanker tersebut terlihat di bawah mikroskop”.2
Baca juga: Stadium Kanker Kolorektal
Pilihan Pengobatan
Karena setiap kanker memiliki karakteristik yang berbeda, pengobatannya pun disesuaikan dengan jenis, stadium, dan kondisi pasien.1,2 Metode yang umum dilakukan meliputi pengangkatan tumor melalui operasi, radioterapi yang menggunakan sinar radiasi, serta kemoterapi yang menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker di seluruh tubuh. Saat ini, pengobatan modern juga mencakup terapi target (menyerang komponen spesifik sel kanker), imunoterapi (membantu sistem kekebalan tubuh melawan kanker), dan terapi hormon.1,3 Selain itu, perawatan paliatif juga krusial diberikan di berbagai tahap pengobatan untuk meredakan rasa nyeri dan menjaga kualitas hidup pasien.1
Baca juga: Inovasi Pengobatan Kanker
Kapan Harus ke Dokter?
Jangan pernah menunda pemeriksaan medis karena takut dengan hasil diagnosis.1 Segeralah berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami keluhan yang menetap lebih dari 2–3 minggu, seperti munculnya benjolan baru, perdarahan tidak normal, batuk berkepanjangan, nyeri berulang, atau penurunan berat badan drastis tanpa sebab.1,2 Ingatlah bahwa tidak semua benjolan berarti kanker; benjolan bisa saja berupa kista atau sekadar infeksi biasa.2 Namun, pemeriksaan medis menyeluruh seperti tes laboratorium, rontgen, USG, hingga biopsi (pengambilan sampel jaringan) sangat diperlukan untuk memastikan penyebab pastinya secara akurat.2 Kanker tidak selalu mematikan; peluang kesembuhannya akan jauh lebih besar bila penyakit ini ditemukan dan ditangani secepat mungkin.1
Baca juga: Apakah Perlu Langsung ke Dokter Onkologi?
Referensi
- World Health Organization. Cancer [Internet]. Geneva: WHO; 2025 Feb 3 [cited 2026 Mar 9]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer
- National Cancer Institute. Cancer Staging [Internet]. Bethesda (MD): National Cancer Institute; 2022 Oct 14 [cited 2026 Mar 9]. Available from: https://www.cancer.gov/about-cancer/diagnosis-staging/staging
- Hanahan D, Weinberg RA. Hallmarks of cancer: the next generation. Cell. 2011;144(5):646-674.
- Rosen RD, Sapra A. TNM Classification. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 [cited 2026 Mar 9]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK553187/
