Deteksi dini memberi peluang terbesar untuk menemukan kanker pada tahap paling awal disaat terapi lebih sederhana, tingkat keberhasilan lebih tinggi, dan risiko komplikasi lebih rendah. Karena itu, memilih pilihan screening kanker pertama menjadi langkah penting bagi siapa pun yang ingin memahami kondisi tubuh dan mencegah penyakit serius berkembang tanpa gejala.
Screening bukan sekadar “tes rutin”, melainkan strategi medis yang dirancang untuk mengenali perubahan mikroskopik, kelainan jaringan, atau tanda biologis sebelum gejala muncul. Setiap metode memiliki keunggulan, tujuan, dan kelompok risiko yang berbeda. Panduan ini membantu menavigasi berbagai opsi skrining yang umum direkomendasikan di dunia medis modern.
Baca juga : Apa yang Harus Dilakukan Kalau Curiga Kanker: Langkah Bijak untuk Deteksi Dini
Mengapa Penting Memilih Tes Screening Kanker yang Tepat?
Pemilihan skrining tidak dapat disamaratakan. Faktor usia, jenis kelamin, gaya hidup, faktor risiko genetik, hingga riwayat kanker dalam keluarga menentukan pendekatan terbaik. Menurut pedoman global, tes tertentu seperti mammografi atau kolonoskopi yang bahkan terbukti menurunkan mortalitas karena mampu mendeteksi kanker pada stadium sangat awal atau mengangkat lesi prakanker sebelum berubah ganas.
Pilihan Screening Kanker Pertama Berdasarkan Jenis Tes
Panduan berikut mencakup tiga kategori besar: tes pencitraan, tes laboratorium & berbasis jaringan, serta pemeriksaan fisik. Masing-masing berperan penting dalam deteksi kanker pada populasi umum maupun mereka yang berisiko tinggi.
1. TES PENCITRAAN
Tes pencitraan menjadi pilihan awal yang sering diambil karena mampu memberikan visualisasi organ secara detail, termasuk mendeteksi tumor kecil yang belum menimbulkan gejala.
PET Scan
Positron Emission Tomography (PET scan) menghasilkan gambaran metabolisme sel tubuh. Pada kanker, sel abnormal biasanya menunjukkan aktivitas metabolik tinggi sehingga lebih mudah terlihat.
Kapan digunakan?
- Evaluasi dugaan kanker
- Melihat penyebaran (staging)
- Memantau respons terhadap terapi
Meski bukan skrining rutin untuk populasi umum, PET scan penting bagi individu berisiko tinggi atau yang memiliki temuan abnormal dari pemeriksaan lain.
Baca juga : Prosedur PET Scan Kanker dari Persiapan hingga Tahap Pemeriksaan
Mammografi
Mammografi adalah standar emas skrining kanker payudara. Menggunakan sinar-X dosis rendah, teknologi ini dapat menangkap perubahan struktur kelenjar dan mikrokalsifikasi yang sering menjadi tanda awal kanker payudara.
Umumnya direkomendasikan untuk:
- Wanita usia 40 tahun ke atas
- Individu dengan riwayat keluarga kanker payudara
- Mereka yang memiliki risiko genetik seperti mutasi BRCA1/BRCA2
CT Scan Dosis Rendah (Low-Dose CT / LDCT)
LDCT merupakan metode utama untuk skrining kanker paru, terutama bagi perokok aktif maupun mantan perokok dengan paparan berat.
Keunggulan LDCT:
- Dosis radiasi lebih rendah dibanding CT biasa
- Mendeteksi nodul paru kecil sebelum berkembang
WHO dan lembaga kesehatan global menekankan LDCT sebagai satu-satunya skrining kanker paru dengan bukti kuat menurunkan mortalitas pada kelompok berisiko.
Kolonoskopi
Kolonoskopi memeriksa kolon dan rektum menggunakan kamera fleksibel. Selain mendeteksi kanker, prosedur ini dapat mengangkat polip prakanker secara langsung, sebuah keuntungan yang tidak dimiliki metode skrining lain.
Cocok untuk:
- Usia 45 tahun ke atas
- Mereka dengan riwayat polip
- Individu dengan riwayat keluarga kanker kolorektal
Pencitraan Lainnya
Beberapa pencitraan tambahan dapat direkomendasikan berdasarkan risiko spesifik:
- MRI payudara untuk individu berisiko tinggi
- USG transvaginal untuk evaluasi ovarium dan organ reproduksi wanita
- Ultrasonografi diagnostik untuk memeriksa organ tertentu bila ditemukan kelainan pada pemeriksaan awal
2. TES LABORATORIUM DAN BERBASIS JARINGAN
Tes berbasis biomarker atau sel memberikan gambaran mikro-level terkait perubahan genetik, protein, atau sel yang terjadi sebelum kanker terbentuk.
Pap Smear
Pap smear mengumpulkan sel dari serviks untuk melihat perubahan prakanker. Prosedur ini telah lama terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker serviks secara signifikan.
Tes HPV
Tes HPV mendeteksi keberadaan human papillomavirus risiko tinggi—penyebab utama kanker serviks. Biasanya dikombinasikan dengan Pap smear untuk hasil lebih akurat.
Baca juga : Kanker Serviks dan Pentingnya Vaksin HPV bagi Perempuan
Tes Feses (FOBT/FIT dan DNA Stool Test)
Tes berbasis feses mendeteksi darah tersembunyi atau marker DNA abnormal yang dapat mengindikasikan kanker kolorektal atau polip.
Metode ini cocok sebagai alternatif kolonoskopi bagi populasi risiko rendah.
Tes PSA
Tes Prostate-Specific Antigen (PSA) membantu menemukan tanda awal kanker prostat. Meski bukan tanpa kontroversi, PSA dapat bermanfaat bagi pria dengan faktor risiko khusus seperti riwayat keluarga atau usia lanjut.
Tes Deteksi Multikanker (Multi-Cancer Detection / MCD)
Inovasi terbaru berupa tes darah multikanker menawarkan pendekatan non-invasif untuk mendeteksi fragmen DNA, RNA, atau protein yang dilepaskan oleh sel kanker.
Meskipun belum menjadi skrining standar populasi, teknologi ini berkembang cepat dan menunjukkan potensi besar untuk deteksi kanker lebih luas.
3. PEMERIKSAAN FISIK
Metode ini sering menjadi fondasi awal sebelum dilakukan tes lebih lanjut.
Pemeriksaan Fisik Menyeluruh
Tenaga kesehatan memeriksa tanda abnormal seperti:
- Benjolan
- Perubahan kulit
- Pembesaran kelenjar getah bening
- Penurunan berat badan tanpa sebab
Selain itu, riwayat kesehatan dan keluarga menjadi dasar penentuan tes lanjutan.
Pemeriksaan Kulit
Skrining kanker kulit dilakukan dengan memeriksa bintik, tahi lalat, atau lesi mencurigakan pada seluruh permukaan kulit. Individu dengan paparan matahari tinggi atau riwayat melanoma membutuhkan evaluasi rutin.
Pertimbangan Penting Saat Memilih Screening Kanker Pertama
Pemilihan skrining tidak boleh sembarangan. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
- Usia: rekomendasi berbeda untuk dewasa muda, usia pertengahan, dan lansia
- Jenis kelamin: beberapa kanker berkaitan organ reproduksi tertentu
- Gaya hidup: seperti kebiasaan merokok, pola makan, dan aktivitas fisik
- Riwayat keluarga: misalnya mutasi BRCA atau riwayat polip
- Kondisi medis lain: yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
Kolonoskopi adalah contoh tes yang tidak hanya menemukan kanker tetapi juga mengurangi resikonya dengan mengangkat polip sebelum berubah ganas.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi pendekatan terbaik untuk menentukan skrining pertama yang paling relevan.
Memilih pilihan screening kanker pertama adalah langkah proaktif untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Tes pencitraan, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium masing-masing menawarkan pendekatan berbeda dalam menemukan kanker pada tahap paling awal. Dengan memahami keunggulan dan peran setiap metode, keputusan skrining dapat dibuat lebih terarah, berbasis bukti, dan sesuai kebutuhan risiko individu.
Deteksi dini bukan hanya soal menemukan penyakit, tetapi memberi ruang lebih besar untuk terapi yang efektif, pemulihan optimal, dan kualitas hidup yang tetap terjaga.
Referensi
- National Cancer Institute. Cancer Screening Overview. 2024. Available from: https://www.cancer.gov/about-cancer/screening
- Centers for Disease Control and Prevention. Screening Tests for Cancer. 2023. Available from: https://www.cdc.gov/cancer/dcpc/prevention/screening.htm
- Mayo Clinic. Cancer screening: Diagnosis. 2024. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cancer/diagnosis-treatment/drc-20370594
