Skrining kanker adalah pemeriksaan yang dilakukan pada orang yang tampak sehat, dengan tujuan menemukan kanker atau perubahan pra-kanker sebelum menimbulkan gejala.1-4
Pendekatan skrining berdasarkan usia membantu menentukan kapan waktu paling tepat untuk mulai dan menghentikan pemeriksaan, sehingga manfaat deteksi dini lebih besar dibandingkan risikonya.1-5Setiap jenis kanker memiliki pola risiko yang berbeda pada tiap kelompok usia, serta memerlukan jenis tes yang berbeda pula. Oleh karena itu, lembaga medis internasional secara berkala memperbarui panduan skrining berdasarkan bukti ilmiah terkini.1-4
Baca juga : Apa yang Harus Dilakukan Kalau Curiga Kanker: Langkah Bijak untuk Deteksi Dini
Mengapa Skrining Kanker Berdasarkan Usia Itu Penting?
Usia merupakan salah satu faktor risiko terkuat pada banyak jenis kanker. Seiring bertambahnya usia, akumulasi kerusakan sel dan paparan berbagai faktor risiko (seperti merokok, pola makan tidak sehat, atau paparan zat kimia tertentu) membuat kemungkinan terjadinya kanker meningkat.3-5
Metode skrining seperti mammogram (untuk kanker payudara), Pap smear dan tes HPV (untuk kanker serviks), kolonoskopi atau tes tinja (untuk kanker kolorektal), tes PSA (untuk kanker prostat), dan low-dose CT scan atau LDCT (untuk kanker paru) telah terbukti membantu menemukan kanker pada stadium lebih awal, ketika pengobatan biasanya lebih efektif.1-4
Melalui skrining yang tepat usia, seseorang dapat:1-5
- Menemukan kanker atau lesi pra-kanker sebelum menimbulkan keluhan.
- Meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan angka harapan hidup.
- Mengurangi risiko komplikasi jangka panjang dan kebutuhan terapi yang lebih agresif.
- Menyusun rencana pemantauan kesehatan jangka panjang bersama tenaga medis.
Baca juga :Prosedur PET Scan Kanker dari Persiapan hingga Tahap Pemeriksaan
Skrining Kanker Berdasarkan Usia dan Jenis Kanker
1. Kanker Payudara
Skrining kanker payudara umumnya dilakukan dengan mammogram, yaitu foto rontgen khusus payudara yang dapat mendeteksi benjolan kecil atau perubahan jaringan sebelum teraba atau menimbulkan keluhan.1,2
Berikut panduan usia skrining kanker payudara untuk perempuan dengan risiko rata-rata (tidak memiliki faktor risiko khusus seperti mutasi genetik tertentu):1,2
- Usia 40-44 tahun: memiliki pilihan untuk mulai melakukan mammogram tahunan jika ingin deteksi lebih dini atau memiliki kekhawatiran khusus mengenai kanker payudara.1,2
- Usia 45-54 tahun: dianjurkan untuk menjalani mammogram setiap tahun karena pada rentang usia ini angka kejadian kanker payudara mulai meningkat cukup signifikan.1,2
- Usia 55 tahun ke atas: mammogram dapat dilakukan setiap 1-2 tahun sekali, tergantung kondisi kesehatan dan pertimbangan dokter. Skrining sebaiknya tetap dilanjutkan selama seseorang masih memiliki harapan hidup yang baik dan sanggup menjalani pengobatan bila kanker ditemukan.1,2
Perempuan dengan risiko tinggi, misalnya memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga dekat, mutasi gen BRCA1/BRCA2, atau pernah terpapar radioterapi di daerah dada saat usia muda, mungkin memerlukan skrining yang dimulai lebih awal dan dilakukan lebih sering. Pengaturan jadwal skrining pada kelompok ini sebaiknya ditentukan bersama dokter spesialis onkologi atau dokter penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi.1,4
2. Kanker Serviks
Kanker serviks umumnya berkembang perlahan dari perubahan sel pra-kanker di leher rahim. Karena itu, skrining yang tepat dapat menemukan sel-sel abnormal jauh sebelum berubah menjadi kanker dan dapat diobati dengan tindakan sederhana.3-5
Metode skrining utama adalah Pap smear (Pap test) untuk melihat perubahan sel di serviks dan tes HPV untuk mendeteksi infeksi virus human papillomavirus risiko tinggi, yang merupakan penyebab utama kanker serviks.3-5
Panduan usia skrining kanker serviks untuk perempuan adalah sebagai berikut:1,3
- Usia 21-29 tahun: lakukan Pap smear setiap 3 tahun sekali, bila hasilnya normal. Tes HPV umumnya belum direkomendasikan sebagai tes tunggal utama pada kelompok usia ini karena infeksi HPV sering bersifat sementara dan dapat hilang sendiri.1,3
- Usia 30-65 tahun: tersedia beberapa pilihan skrining yang sama-sama dapat diterima, yaitu Pap smear setiap 3 tahun, atau kombinasi Pap smear dan tes HPV (co-testing) setiap 5 tahun, atau tes HPV saja setiap 5 tahun, tergantung kebijakan setempat dan pertimbangan dokter.1,3,4
- Usia di atas 65 tahun: skrining dapat dihentikan bila hasil tes selama 10 tahun terakhir normal dan tidak ada riwayat lesi pra-kanker derajat tinggi. Bila pernah ditemukan hasil abnormal, dokter mungkin menyarankan untuk melanjutkan skrining lebih lama.1,3
Perempuan yang telah menjalani histerektomi total karena alasan non-kanker serviks mungkin tidak lagi memerlukan skrining serviks, sedangkan mereka yang memiliki faktor risiko khusus (misalnya infeksi HIV) memerlukan jadwal skrining yang lebih sering sesuai anjuran dokter.3-5
Baca juga : Kanker Serviks dan Pentingnya Vaksin HPV bagi Perempuan
3. Kanker Kolorektal
Kanker kolorektal mencakup kanker usus besar dan rektum. Banyak kasus berawal dari polip, yaitu benjolan kecil jinak di dinding usus yang lama-kelamaan dapat berubah menjadi ganas. Skrining bertujuan menemukan polip atau kanker pada tahap sangat awal sehingga dapat diangkat sebelum menyebar.1,2,4
Metode skrining utama meliputi kolonoskopi (pemeriksaan langsung ke dalam usus besar dengan kamera) dan berbagai jenis tes tinja, seperti fecal immunochemical test (FIT) atau tes darah samar pada tinja.1,2,4
Panduan usia skrining kanker kolorektal untuk orang dengan risiko rata-rata adalah:1,2
- Mulai usia 45 tahun: dianjurkan memulai skrining secara rutin karena penelitian menunjukkan peningkatan kejadian kanker kolorektal pada kelompok usia di bawah 50 tahun dalam beberapa dekade terakhir.1,2
- Usia 45-75 tahun: lanjutkan skrining berkala dengan salah satu metode berikut, sesuai kesediaan dan ketersediaan layanan: kolonoskopi setiap 10 tahun bila hasil normal, atau tes tinja seperti FIT setiap tahun, atau metode lain yang disarankan dokter.1,2,4
- Usia di atas 75 tahun: keputusan melanjutkan atau menghentikan skrining perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan umum, riwayat hasil skrining sebelumnya, serta harapan hidup. Dokter akan membantu menilai apakah skrining masih bermanfaat pada usia ini.1,4
Orang dengan faktor risiko tinggi, seperti riwayat keluarga kanker kolorektal, riwayat polip besar, atau penyakit radang usus kronis, biasanya disarankan mulai skrining lebih awal dan lebih sering, dengan skema yang dipersonalisasi oleh dokter spesialis.1,4,5
4. Kanker Prostat
Kanker prostat merupakan salah satu kanker tersering pada laki-laki. Namun, beberapa kanker prostat tumbuh sangat lambat dan mungkin tidak pernah menimbulkan gejala selama hidup penderitanya. Karena itu, keputusan untuk skrining tidak selalu sama pada setiap orang dan perlu mempertimbangkan manfaat serta risikonya.1,3,4
Tes utama untuk skrining adalah pemeriksaan kadar PSA (prostate-specific antigen) dalam darah, yang kadarnya dapat meningkat pada kanker prostat maupun kondisi jinak lainnya. Kadang-kadang, dokter juga melakukan pemeriksaan colok dubur (digital rectal examination) untuk menilai bentuk dan kekerasan prostat.1,3
Secara umum, panduan skrining kanker prostat untuk laki-laki dengan risiko rata-rata adalah:1,2
- Mulai sekitar usia 50 tahun: laki-laki dianjurkan berdiskusi dengan dokternya mengenai manfaat dan risiko skrining, lalu memutuskan bersama apakah akan melakukan tes PSA secara berkala.1,2
- Usia lebih muda, sekitar 40-45 tahun: diskusi skrining dapat dimulai lebih awal pada laki-laki dengan risiko tinggi, misalnya memiliki keluarga dekat dengan riwayat kanker prostat pada usia muda atau berasal dari kelompok etnis tertentu dengan risiko lebih tinggi.1,3,4
Interval dan lama skrining akan ditentukan berdasarkan nilai PSA, usia, dan kondisi kesehatan menyeluruh. Pada beberapa kasus, pemantauan aktif tanpa terapi langsung bisa menjadi pilihan bila ditemukan kanker prostat risiko rendah.3,4
5. Kanker Paru-Paru
Kanker paru sering kali tidak menimbulkan gejala khas pada stadium awal dan baru terdeteksi saat sudah lanjut. Karena itu, skrining dengan low-dose CT scan (LDCT) direkomendasikan untuk kelompok dengan risiko sangat tinggi, terutama terkait kebiasaan merokok.1,3,4
Secara umum, skrining kanker paru dengan LDCT dapat dipertimbangkan pada:1,3,4
- Orang berusia sekitar 50 tahun atau lebih, yang saat ini merokok atau pernah merokok berat (misalnya riwayat merokok minimal 20 pack-years (sekitar satu bungkus per hari selama 20 tahun).1,3,4
- Mereka yang sudah berhenti merokok, tetapi memiliki riwayat merokok berat di masa lalu, masih dapat termasuk kelompok berisiko dan mungkin diuntungkan dari skrining, terutama bila berhenti merokok dalam 15 tahun terakhir.1,3
Keputusan untuk melakukan skrining kanker paru harus dibarengi dengan upaya berhenti merokok dan pengelolaan faktor risiko lain. Skrining tidak menggantikan manfaat berhenti merokok, tetapi dapat menurunkan angka kematian akibat kanker paru pada kelompok berisiko tinggi bila dilakukan secara tepat.3-5
Mengapa Rekomendasi Tiap Usia Berbeda?
Rekomendasi usia skrining disusun berdasarkan data besar dari penelitian dan registri kanker yang menunjukkan pada usia berapa suatu jenis kanker paling sering muncul dan kapan tes skrining memberikan manfaat terbesar dengan risiko paling kecil.1,4,5
Beberapa faktor yang memengaruhi perbedaan rekomendasi tiap usia antara lain:1,4,5
- Lonjakan angka kejadian (insidensi) kanker tertentu pada rentang usia tertentu.
- Perubahan hormon dan proses penuaan yang memengaruhi organ sasaran, misalnya payudara dan serviks.
- Efektivitas dan keakuratan tes skrining yang dapat berbeda pada usia muda dibandingkan usia lanjut.
- Risiko paparan kumulatif, seperti lama merokok atau paparan zat karsinogen lain.
- Pertimbangan manfaat skrining dibandingkan risiko efek samping atau temuan yang tidak perlu diobati.
Karena itu, mengikuti panduan usia bukan sekadar formalitas, tetapi bagian penting dari upaya pencegahan dan deteksi dini kanker yang berbasis bukti ilmiah.1,4,5
Baca juga : Pilihan Screening Kanker Pertama: Panduan Tepat Memulai Deteksi Dini yang Efektif
Kesimpulan: Langkah Kecil dengan Dampak Besar
Skrining kanker yang dilakukan pada usia dan kelompok risiko yang tepat dapat membantu menemukan kanker pada tahap paling dini, ketika pengobatan cenderung lebih sederhana dan peluang sembuh lebih tinggi.1-5
Dari mammogram hingga kolonoskopi, dari Pap smear hingga low-dose CT scan, setiap jenis skrining memiliki panduan usia dan interval yang spesifik. Diskusikan dengan dokter Anda mengenai skrining apa yang sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan faktor risiko pribadi Anda.1-5
