Kanker Vulva: Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, dan Cara Pengobatannya

BAGIKAN

Kanker vulva adalah kanker yang terjadi pada vulva, yaitu bagian luar organ genital wanita. Vulva mencakup labia, klitoris, area sekitar lubang vagina, dan jaringan sekitarnya. Topik ini sering terasa sensitif untuk dibicarakan, tetapi keluhan seperti gatal menetap, benjolan, luka, perdarahan, atau perubahan warna kulit vulva sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu membedakan apakah keluhan disebabkan infeksi, iritasi, penyakit kulit, lesi prakanker, atau kanker.[1-3]

Gejala kanker vulva dan pengertian kanker vulva penting dipahami dengan bahasa yang tidak menghakimi. Kanker ini bukan tanda “kurang bersih” atau kesalahan pasien. Banyak faktor dapat berperan, termasuk HPV, kondisi kulit kronis seperti lichen sclerosus, usia, kebiasaan merokok, gangguan imun, dan perubahan sel vulva yang berkembang perlahan.[1-3]

Apa Itu Kanker Vulva?

Kanker vulva adalah pertumbuhan sel ganas pada jaringan vulva. Jenis yang paling sering adalah squamous cell carcinoma, yaitu kanker yang berasal dari sel skuamosa pada permukaan kulit vulva.[1,3] NCI PDQ menjelaskan bahwa ringkasan kanker vulva terutama membahas squamous cell cancer of the vulva dan vulvar intraepithelial neoplasia (VIN), yaitu perubahan sel prakanker yang dapat menjadi pendahulu kanker invasif pada sebagian kasus.[1]

Kanker vulva pada wanita lebih sering ditemukan pada usia lebih tua, tetapi dapat terjadi pada usia lebih muda, terutama bila berkaitan dengan infeksi HPV atau kondisi risiko tertentu.[1-3] Karena gejalanya bisa mirip infeksi atau iritasi biasa, pasien sering menunda pemeriksaan. Padahal, keluhan vulva yang menetap atau berulang perlu dievaluasi dokter.

Gejala Kanker Vulva yang Perlu Diperhatikan

Gejala kanker vulva dapat berbeda pada setiap orang. Sebagian pasien awalnya hanya merasakan gatal atau tidak nyaman yang tidak kunjung hilang. Tanda yang perlu diperhatikan meliputi:

  • gatal vulva yang menetap atau sering kambuh
  • nyeri, rasa terbakar, atau perih pada area vulva
  • benjolan, penebalan, atau area kulit yang terasa berbeda
  • luka, ulkus, atau area yang tidak sembuh
  • perdarahan atau keluar cairan yang tidak biasa
  • perubahan warna kulit vulva, misalnya menjadi lebih putih, merah, gelap, atau tampak menebal
  • nyeri saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil bila lesi berada dekat area tersebut
  • pembesaran kelenjar di lipat paha pada kondisi tertentu[1-3]

Tanda kanker vulva tidak selalu tampak jelas. Keluhan seperti gatal atau luka dapat disebabkan banyak kondisi non-kanker, termasuk infeksi jamur, dermatitis, alergi, atau penyakit kulit. Namun, bila keluhan tidak membaik dengan penanganan biasa, berulang, atau disertai benjolan/luka, pemeriksaan dokter sangat dianjurkan.[1,3]

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab kanker vulva tidak selalu dapat ditentukan pada satu pasien. Namun, beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan risiko.

1. Infeksi HPV

Sebagian kanker vulva berkaitan dengan infeksi human papillomavirus (HPV), terutama pada jalur penyakit yang berhubungan dengan vulvar intraepithelial neoplasia. ESGO guideline menjelaskan bahwa sebagian kanker vulva berkembang melalui lesi prakanker yang dapat berkaitan dengan HPV.[3]

2. Lichen sclerosus dan penyakit kulit kronis

Lichen sclerosus adalah kondisi kulit kronis yang dapat menyebabkan gatal, kulit menipis/menebal, perubahan warna, dan iritasi pada vulva. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kanker vulva pada sebagian pasien, terutama bila tidak terpantau atau terjadi perubahan kulit yang mencurigakan.[2,3]

3. Usia

Kanker vulva lebih sering terjadi pada wanita usia lanjut, meskipun tidak terbatas pada kelompok usia tersebut.[1,3] Pada usia lebih tua, keluhan gatal, luka, atau perubahan kulit sering dianggap “biasa”, padahal tetap perlu dievaluasi bila menetap.

4. Merokok dan gangguan imun

Merokok dapat meningkatkan risiko kanker terkait HPV, termasuk beberapa kanker anogenital. Gangguan imun, misalnya akibat kondisi medis tertentu atau obat imunosupresif, juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengendalikan infeksi HPV dan perubahan sel abnormal.[2,3]

5. Riwayat lesi prakanker

Vulvar intraepithelial neoplasia (VIN) adalah perubahan sel prakanker pada vulva. Tidak semua VIN berkembang menjadi kanker, tetapi kondisi ini membutuhkan pemantauan dan penanganan sesuai rekomendasi dokter.[1,3]

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Kanker Vulva?

Diagnosis kanker vulva tidak bisa dipastikan hanya dari melihat gejala. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk menilai area vulva dan menentukan apakah perlu biopsi.

1. Pemeriksaan fisik vulva

Dokter akan melihat area vulva untuk menilai lokasi, ukuran, warna, bentuk, luka, penebalan, atau benjolan. Pemeriksaan juga dapat mencakup area lipat paha untuk menilai kelenjar getah bening.[1,3]

2. Biopsi sebagai kunci diagnosis

Biopsi adalah kunci diagnosis kanker vulva. Pada biopsi, dokter mengambil sampel jaringan dari area yang mencurigakan untuk diperiksa di laboratorium patologi. NCI PDQ dan guideline ESGO menempatkan diagnosis histologis melalui biopsi sebagai bagian penting dalam penegakan diagnosis sebelum menentukan terapi.[1,3]

3. Imaging untuk staging bila diperlukan

Jika hasil biopsi menunjukkan kanker, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan tambahan untuk menentukan stadium atau luas penyakit. Pemeriksaan dapat mencakup imaging seperti USG kelenjar, CT scan, MRI, atau PET/CT sesuai kondisi klinis, ukuran tumor, lokasi, serta dugaan penyebaran.[1,3]

4. Evaluasi kelenjar getah bening

Status kelenjar getah bening, terutama di area lipat paha, penting dalam staging dan perencanaan pengobatan kanker vulva. Pada kasus tertentu, dokter dapat mempertimbangkan sentinel lymph node biopsy atau evaluasi kelenjar lain sesuai kriteria klinis.[2,3]

Baca juga: Kanker Ovarium: Gejala, Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mendeteksinya Sejak Dini

Pilihan Pengobatan Kanker Vulva

Pengobatan kanker vulva disesuaikan dengan stadium, ukuran tumor, lokasi, jenis histologi, keterlibatan kelenjar getah bening, kondisi umum pasien, dan tujuan terapi.[1-3]

1. Operasi

Operasi adalah salah satu terapi utama pada banyak kasus kanker vulva, terutama stadium awal. Prinsip modern cenderung mengutamakan pengangkatan tumor secara adekuat sambil mempertahankan fungsi dan kualitas hidup sebanyak mungkin.[2,3] Pada stadium awal, pengangkatan lokal luas atau prosedur konservatif dapat dipertimbangkan sesuai lokasi dan ukuran tumor.[2,3]

2. Evaluasi atau operasi kelenjar getah bening

Bila ada risiko penyebaran ke kelenjar getah bening, dokter dapat mempertimbangkan sentinel lymph node biopsy atau pengangkatan kelenjar tertentu. Keputusan ini bergantung pada ukuran tumor, kedalaman invasi, lokasi lesi, dan temuan klinis/imaging.[2,3]

3. Radioterapi

Radioterapi dapat digunakan pada kondisi tertentu, misalnya setelah operasi bila ada faktor risiko kekambuhan, keterlibatan kelenjar getah bening, atau bila operasi tidak memungkinkan. Radioterapi juga dapat dikombinasikan dengan kemoterapi pada kasus tertentu.[1,3]

4. Kemoterapi atau kemoradiasi

Kemoterapi dapat diberikan bersama radioterapi pada sebagian kasus lokal lanjut atau digunakan pada kondisi tertentu sesuai rekomendasi dokter. Pemilihan regimen bergantung pada stadium, kondisi pasien, dan tujuan pengobatan.[1,3]

5. Terapi paliatif dan suportif

Pada penyakit lanjut atau kekambuhan, terapi dapat difokuskan untuk mengendalikan gejala, mengurangi nyeri, mengatasi luka atau perdarahan, dan menjaga kualitas hidup. Perawatan suportif dapat diberikan bersamaan dengan terapi kanker utama.[1]

Pengobatan kanker vulva sebaiknya dilakukan oleh tim yang memahami kanker ginekologi karena terapi perlu mempertimbangkan kontrol penyakit, fungsi seksual, berkemih, berjalan, kenyamanan, dan kesehatan mental pasien.[2,3]

Kapan Harus Konsultasi?

Segera konsultasikan ke dokter bila mengalami:

  • gatal vulva yang menetap atau sering kambuh
  • luka/ulkus yang tidak sembuh
  • benjolan atau penebalan kulit vulva
  • perdarahan yang tidak biasa
  • nyeri atau rasa terbakar menetap
  • perubahan warna kulit vulva
  • keluhan vulva yang tidak membaik setelah terapi biasa
  • pembesaran kelenjar di lipat paha[1-3]

Keluhan tersebut tidak otomatis berarti kanker. Namun, pemeriksaan penting karena kanker vulva, lesi prakanker, infeksi, dan penyakit kulit kronis dapat memiliki gejala yang mirip. Jangan menunda hanya karena merasa malu; dokter terbiasa menangani keluhan ini secara profesional dan rahasia.

Konsultasi dan Pencegahan Kanker Wanita melalui ONEOnco

Jika Anda mengalami keluhan pada area vulva yang menetap, memiliki hasil biopsi yang perlu ditinjau kembali, atau ingin mendapatkan second opinion terkait kanker vulva, Anda dapat berkonsultasi melalui ONEOnco. ONEOnco dapat membantu mengarahkan pasien ke dokter spesialis, pemeriksaan yang sesuai, serta fasilitas kesehatan yang dibutuhkan berdasarkan kondisi masing-masing.

Karena sebagian kasus kanker vulva berkaitan dengan infeksi HPV, pencegahan infeksi HPV juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Anda dapat melihat informasi mengenai Vaksin HPV di ONEOnco untuk mengetahui pilihan vaksinasi yang tersedia dan berkonsultasi mengenai jadwal vaksinasi yang sesuai.

ONEOnco juga menyediakan layanan Pap Smear sebagai salah satu pemeriksaan skrining untuk membantu mendeteksi perubahan sel pada leher rahim. Perlu dipahami bahwa Pap smear digunakan untuk skrining kanker serviks dan bukan pemeriksaan untuk mendiagnosis kanker vulva. Keluhan berupa gatal menetap, luka, benjolan, perdarahan, atau perubahan kulit pada vulva tetap perlu diperiksa langsung oleh dokter.

Selain itu, www.oneonco.co.id menyediakan Program Bantuan Pasien dengan harga khusus untuk beberapa produk onkologi tertentu. Bagi pasien yang membutuhkan informasi mengenai ketersediaan obat yang termasuk dalam program, ketentuan, kriteria peserta, serta harga, informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi WhatsApp ONEONCO di +62 811-1707-0111.

FAQ

Apakah gatal vulva bisa tanda kanker?

Bisa, tetapi tidak selalu. Gatal vulva lebih sering disebabkan infeksi, iritasi, alergi, atau penyakit kulit. Namun, gatal yang menetap, sering kambuh, disertai luka, benjolan, perdarahan, atau perubahan warna kulit vulva perlu diperiksa dokter.[1-3]

Apakah kanker vulva disebabkan HPV?

Sebagian kanker vulva berkaitan dengan HPV, tetapi tidak semuanya. Faktor lain seperti lichen sclerosus, usia, gangguan imun, merokok, dan riwayat lesi prakanker juga dapat berperan.[1-3]

Bagaimana pengobatan kanker vulva?

Pengobatan dapat meliputi operasi, evaluasi kelenjar getah bening, radioterapi, kemoterapi/kemoradiasi, serta perawatan suportif sesuai stadium dan kondisi pasien. Rencana terapi harus ditentukan oleh dokter berdasarkan hasil biopsi, imaging, stadium, dan kondisi umum pasien.[1-3]

Referensi

  1. National Cancer Institute. Vulvar cancer treatment (PDQ®)–health professional version [Internet]. Bethesda (MD): National Cancer Institute; 2025 May 14 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.cancer.gov/types/vulvar/hp/vulvar-treatment-pdq
  2. Restaino S, Arcieri M, Driul L, Marchesoni D, Fanfani F, Vizza E, et al. Management of patients with vulvar cancers: a systematic review. Cancers (Basel) [Internet]. 2025;17(2):186 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://www.mdpi.com/2072-6694/17/2/186. doi:10.3390/cancers17020186
  3. European Society of Gynaecological Oncology. Vulvar cancer guidelines [Internet]. Prague: European Society of Gynaecological Oncology; 2016 [cited 2026 Mar 4]. Available from: https://guidelines.esgo.org/media/2016/08/ESGO-Vulvar-cancer-Complete-report-fxd2.pdf