Ultrasonografi (USG) telah lama menjadi salah satu teknik pencitraan medis yang paling luas digunakan. Namun ketika pertanyaannya berfokus pada kemampuan USG dalam mendeteksi kanker, diskusinya perlu melihat lebih dalam pada data klinis, faktor teknis, serta batasan metode ini.
Sebagai modalitas non-invasif tanpa radiasi, USG memberi keuntungan signifikan untuk evaluasi awal berbagai jenis lesi. Meski demikian, ketepatan diagnostiknya tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi keterampilan operator, teknologi, dan karakteristik tumor yang diperiksa.
Artikel ini membedah akurasi USG, batasan, serta aplikasinya dalam konteks deteksi kanker berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Dapatkah Ultrasonografi Mendeteksi Kanker?
Dalam banyak kasus, USG dapat mendeteksi keberadaan massa abnormal dan memberikan indikasi apakah suatu lesi lebih mengarah ke jinak atau ganas. USG tidak hanya mampu melihat bentuk dan batas tumor, tetapi juga membedakan massa berisi cairan (kistik) dengan massa padat—dua hal yang sangat menentukan arah evaluasi lebih lanjut.
USG sering digunakan sebagai alat skrining tambahan, terutama bagi individu dengan payudara padat, dimana mamografi cenderung kurang sensitif. Dengan kata lain, USG dapat menemukan kanker yang mungkin tersembunyi dalam pemeriksaan lain.
Namun, diagnosis kanker yang pasti tetap memerlukan pemeriksaan tambahan seperti biopsi atau pencitraan lanjutan (CT scan, MRI, atau PET scan).
Baca juga : USG vs CT Scan untuk Kanker: Mana yang Lebih Akurat untuk Deteksi Dini?
Akurasi dan Kinerja USG dalam Mendeteksi Kanker
Tingkat akurasi USG dalam membedakan lesi jinak dan ganas menunjukkan performa tinggi berdasarkan beberapa studi, termasuk penelitian besar yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Ultrasound.
Temuan kunci dari studi klinis
- Sensitivitas: 93,9%
- Spesifisitas: 86,5%
- Positive Predictive Value (PPV): 86,9%
- Negative Predictive Value (NPV): 93,8%
Angka-angka ini menegaskan peran penting USG sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi kelainan dan membantu mengarahkan pemeriksaan lanjutan bila diperlukan.
Sensitivitas yang tinggi mengindikasikan kemampuan USG dalam mendeteksi lesi yang benar-benar ganas, sementara spesifisitas mencerminkan ketepatannya dalam memastikan bahwa lesi tidak bersifat kanker.
Aplikasi Utama USG dalam Evaluasi Kanker
1. Membedakan Massa Kistik dan Padat
Kemampuan USG untuk memvisualisasikan perbedaan antara kista berisi cairan dan massa padat menjadi nilai utama dalam deteksi awal kanker. Banyak tumor ganas bersifat padat, sehingga informasi ini krusial pada tahap awal evaluasi.
2. Skrining pada Payudara Padat
Pada payudara dengan jaringan fibroglandular tinggi, mamografi dapat melewatkan lesi kecil. USG memberikan detail tambahan sehingga tingkat deteksi meningkat, terutama untuk tumor invasif yang tidak terlihat pada mamografi.
3. Alat Pelengkap Diagnostik
USG jarang digunakan sebagai pemeriksaan tunggal dalam diagnosis kanker. Dokter umumnya mengkombinasikannya dengan mamografi atau MRI untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Akurasi USG
Meski akurat, keputusan klinis yang bertumpu pada USG tetap mempertimbangkan sejumlah variabel berikut:
1. Keahlian Operator
USG sangat operator-dependent. Sonografer berpengalaman dapat mengidentifikasi pola lesi halus yang mungkin terlewat oleh pemula.
2. Karakteristik dan Lokasi Tumor
Tumor yang kecil, berada di lokasi sulit, atau tersembunyi di antara struktur padat dapat menurunkan sensitivitas USG. Lesi yang dalam atau berada di bawah jaringan lemak tebal juga bisa mempengaruhi keterbacaan.
3. Teknologi dan Fitur USG Modern
Teknologi terbaru memberikan lompatan besar pada akurasi, termasuk:
- Elastografi: mengukur kekakuan jaringan; kanker umumnya lebih kaku dibanding jaringan normal.
- Microvascular imaging: menangkap pola aliran darah yang mengarah pada perubahan vaskular terkait keganasan.
Fitur-fitur ini memberi lapisan informasi baru yang meningkatkan keyakinan diagnostik.
Kelebihan dan Keterbatasan USG
Kelebihan
- Tidak menggunakan radiasi
- Bisa digunakan berulang
- Cukup akurat pada organ tertentu
- Efektif untuk skrining pada payudara padat
- Terjangkau dan mudah diakses
Keterbatasan
- Tidak bisa menilai struktur yang terhalang gas atau tulang
- Sensitivitas menurun pada tumor kecil tertentu
- Bergantung pada keterampilan operator
- Tidak dapat memastikan diagnosis kanker tanpa biopsi
Dengan kata lain, USG memberikan indikasi, bukan konfirmasi.
Baca juga : Memahami Perbedaan PET dan CT Scan Untuk Deteksi Kanker
Seberapa Akurat USG untuk Deteksi Kanker?
USG merupakan alat pencitraan dengan tingkat akurasi tinggi dalam mendeteksi kelainan yang berpotensi kanker, terutama melalui kemampuan membedakan massa padat dan kistik serta mendeteksi tumor pada payudara padat.
Meski sensitivitas dan spesifisitasnya menjanjikan, USG tetap bukan alat diagnosis final. Kombinasi USG dengan pemeriksaan lanjutan, terutama biopsi, merupakan pendekatan paling tepat dalam menegakkan diagnosis keganasan.
Teknologi USG modern terus berkembang, membuka peluang peningkatan akurasi untuk skrining dan deteksi dini kanker di berbagai organ.
Referensi
- Park YM, Kim EK, Kim MJ, Moon HJ, Yoon JH. Evaluation of solid breast lesions by ultrasound elastography: Qualitative and quantitative assessments based on strain ratio and strain histogram. Med Ultrason. 2018;20(3):265-272. PMCID: PMC6131931.
- Cancer Research UK. Ultrasound for cancer. Available from: https://www.cancer.org/cancer/diagnosis-staging/tests/imaging-tests/ultrasound-for-cancer.html
- Li C, Wei S, Zhang Y. Advances in ultrasound-based cancer detection using microvascular imaging. Commun Med. 2024;4(1). doi:10.1038/s41698-024-00514-z
- Ibrahim H, et al. Diagnostic value of ultrasound elastography in differentiating benign and malignant lesions. Indonesian Health Journal. 2023;3(3). doi:10.58344/ihj.v3i3.539
