Banyak orang bertanya, apakah pasien kanker boleh melakukan puasa berkala (Intermittent Fasting)? Pertanyaan ini semakin sering muncul karena puasa berkala dikenal luas sebagai pola makan yang dikaitkan dengan penurunan berat badan, perbaikan metabolisme, dan gaya hidup sehat.
Namun, pada pasien kanker, jawabannya tidak bisa disamakan dengan orang sehat pada umumnya. Secara medis, pasien kanker tidak otomatis diizinkan untuk menjalani puasa berkala, tetapi juga tidak selalu harus menghindarinya sepenuhnya. Keamanan pola makan ini sangat bergantung pada kondisi tubuh pasien, status gizi, jenis kanker, terapi yang sedang dijalani, serta gejala yang muncul selama masa terapi 1-4
Pada banyak kasus, prioritas utama pasien kanker bukan membatasi waktu makan, melainkan memastikan tubuh mendapat kalori, protein, dan cairan yang cukup agar tetap kuat menjalani terapi. Oleh karena itu, keputusan untuk mencoba puasa berkala sebaiknya tidak dilakukan secara mandiri tanpa konsultasi dengan dokter atau ahli gizi spesialis onkologi. 1,2

Apa Itu Intermittent Fasting?
Puasa berkala atau Intermittent Fasting adalah pola makan yang mengatur waktu makan dan waktu puasa dalam periode tertentu. Bentuk yang paling populer adalah metode 16:8, yaitu berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam. Terdapat juga metode lain seperti puasa selang-seling atau pembatasan waktu makan (time-restricted eating). 3
Dalam konteks penelitian kanker, puasa berkala tidak selalu merujuk pada tren diet populer yang banyak dibahas di media sosial. Beberapa studi juga meneliti bentuk lain seperti puasa jangka pendek (short-term fasting) dan diet meniru puasa (fasting-mimicking diet), yang dilakukan dengan protokol khusus dan pemantauan medis. 3. Oleh karena itu, pasien kanker sangat tidak disarankan untuk meniru pola puasa dari internet tanpa memahami konteks klinisnya.
Apakah Pasien Kanker Boleh Intermittent Fasting?
Jawaban singkatnya adalah: boleh pada sebagian pasien, tetapi tidak untuk semua orang .1-3
Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa puasa berkala pada pasien kanker tertentu mungkin memiliki potensi manfaat, misalnya membantu mengurangi beberapa efek samping terapi atau meningkatkan kenyamanan pasien selama masa terapi. 3,5,6 Namun, bukti ilmiah yang ada saat ini masih terbatas.
Sebagian besar studi masih berukuran kecil, melibatkan kelompok pasien yang spesifik, dan hasilnya belum cukup konsisten untuk dijadikan rekomendasi umum. 3,6 Artinya, sampai saat ini belum ada dasar ilmiah yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa semua pasien kanker sebaiknya melakukan puasa berkala. Pedoman nutrisi kanker justru lebih menekankan pentingnya mencegah kurang gizi (malnutrisi), menjaga berat badan tetap stabil, dan mempertahankan massa otot selama terapi berjalan. 1,2,5
Mengapa Pasien Kanker Harus Hati-Hati dengan Intermittent Fasting?
Pasien kanker termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan nutrisi. Panduan medis menjelaskan bahwa kondisi kurang gizi pada pasien kanker dapat menurunkan toleransi terhadap terapi, meningkatkan risiko komplikasi, dan memperburuk kualitas hidup. 2. Selain itu, pedoman medis juga menegaskan bahwa penurunan berat badan, berkurangnya asupan makan, dan kehilangan massa otot adalah masalah penting dalam perawatan kanker. 1,5. Apabila pasien membatasi waktu makan tanpa pengawasan, ada risiko kebutuhan nutrisi harian justru tidak terpenuhi.
Puasa berkala bisa menjadi masalah terutama bila pasien sudah mengalami: 1,2,5.
- Penurunan berat badan tanpa direncanakan.
- Nafsu makan menurun.
- Mual dan muntah.
- Diare.
- Sariawan atau nyeri saat menelan.
- Cepat kenyang.
- Tubuh lemas.
- Massa otot menurun.
- Risiko malnutrisi atau kaheksia (penyusutan massa tubuh yang ekstrem)
Dalam kondisi seperti ini, tubuh pasien justru membutuhkan strategi makan yang lebih fleksibel dan suportif, bukan pembatasan jadwal makan yang lebih ketat.1,2.
Apakah Intermittent Fasting Bisa Membantu Terapi Kanker?
Ini adalah salah satu alasan mengapa topik ini sering dicari. Beberapa studi awal memang meneliti apakah puasa terkontrol dapat membantu tubuh merespons terapi kanker dengan lebih baik atau mengurangi efek samping terapi tersebut 3,6 Beberapa hasil penelitian menunjukkan potensi manfaat pada sebagian pasien, misalnya terkait kelelahan fisik, mual, gangguan pencernaan, atau kualitas hidup. 3
Namun, penting dipahami bahwa hasil ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa puasa berkala adalah bagian standar dari terapi kanker. Sampai sekarang, tidak ada bukti kuat bahwa puasa berkala dapat menyembuhkan kanker. Karena itu, pasien perlu berhati-hati terhadap klaim berlebihan seperti “puasa bisa membunuh sel kanker” atau “puasa berkala pasti aman untuk semua pasien kanker”. Klaim seperti ini tidak sesuai dengan pendekatan medis berbasis bukti saat ini. 3,6
Siapa yang Tidak Dianjurkan Menjalani Intermittent Fasting?
Secara umum, puasa berkala tidak dianjurkan dilakukan tanpa evaluasi medis pada pasien kanker yang: 1,2,5.
- Sedang menjalani kemoterapi dengan efek samping berat.
- Mengalami penurunan berat badan.
- Sulit makan atau sulit minum.
- Berisiko malnutrisi.
- Mengidap kaheksia atau sarkopenia (penurunan massa otot).
- Memiliki riwayat kencing manis (diabetes) atau kadar gula darah rendah (hipoglikemia).
- Perlu menggunakan obat tertentu bersama makanan.
- Sedang dalam kondisi lemah atau rentan (frail)
Pada kelompok ini, pembatasan makan justru bisa memperburuk kondisi tubuh dan mengganggu proses pemulihan.
Bagaimana dengan Pasien yang Sedang Menjalani Kemoterapi?
Banyak pasien ingin tahu apakah mereka boleh menjalani puasa berkala saat menerima kemoterapi. Jawabannya tetap sama: sangat tergantung pada kondisi masing-masing pasien. Selama kemoterapi, tubuh sering mengalami perubahan besar, termasuk penurunan nafsu makan, mual, perubahan kepekaan indera pengecap, lemas, hingga gangguan saluran cerna. 2
Dalam situasi seperti ini, hal yang lebih penting biasanya adalah memastikan pasien tetap bisa makan dan minum cukup, bukan memperpanjang jeda puasa. Memang ada studi kecil yang meneliti puasa jangka pendek selama terapi kanker, tetapi data tersebut belum cukup kuat untuk dijadikan aturan umum pada semua pasien dan semua jenis kanker. Karena itu, pasien yang sedang kemoterapi tidak disarankan memulai puasa berkala sendiri tanpa pengawasan tim medis.
Apa yang Lebih Penting daripada Intermittent Fasting bagi Pasien Kanker?
Bagi sebagian besar pasien kanker, fokus yang lebih penting adalah: 1,2,5
- Menjaga asupan kalori sesuai kebutuhan tubuh.
- Memenuhi kebutuhan protein.
- Mencegah penurunan berat badan berlebih.
- Mempertahankan massa otot.
- Menyesuaikan pola makan dengan efek samping terapi.
- Memastikan tubuh cukup kuat untuk menjalani terapi.
Pedoman medis menekankan bahwa pasien kanker sering lebih membutuhkan pola makan yang mendukung kekuatan tubuh, termasuk makan dalam porsi kecil tetapi sering, memilih makanan tinggi protein dan kalori saat diperlukan, serta mengatasi hambatan makan seperti mual atau sariawan. 2 Dengan kata lain, pendekatan nutrisi pasien kanker biasanya harus praktis, fleksibel, dan disesuaikan dengan kebutuhan individu, bukan mengikuti tren diet yang sama untuk semua orang.
Baca juga: Pentingnya Mengatur Asupan Gizi Pejuang Kanker
Haruskah Konsultasi Dokter Sebelum Mencoba Intermittent Fasting?
Ya. Ini adalah langkah paling penting. Jika pasien kanker tertarik mencoba puasa berkala, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan: 1,2,7
- Dokter utama yang merawat.
- Dokter spesialis kanker (onkologi).
- Ahli gizi klinis atau ahli diet khusus onkologi.
- Dokter spesialis penyakit dalam bila ada penyakit penyerta seperti kencing manis
Sangat disarankan agar pasien kanker membicarakan rencana puasa dengan tenaga kesehatan sebelum mencobanya.7 Hal ini penting agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi tubuh, target terapi, dan risiko pemenuhan gizi pasien.
Kesimpulan
Jadi, apakah pasien kanker boleh melakukan puasa berkala? Jawabannya adalah bisa dipertimbangkan pada sebagian pasien, tetapi tidak boleh digeneralisasi untuk semua orang. Pada pasien dengan kondisi stabil dan status gizi baik, pola makan tertentu mungkin saja dievaluasi secara individual.
Namun, pada pasien yang sedang mengalami penurunan berat badan, sulit makan, menjalani terapi aktif dengan efek samping berat, atau berisiko kurang gizi, puasa berkala justru bisa lebih berisiko daripada bermanfaat. 1,2,5 Karena itu, pasien kanker sebaiknya tidak mengikuti tren puasa berkala secara sembarangan.
Dalam perawatan kanker, hal yang paling penting adalah memastikan tubuh tetap mendapat nutrisi yang cukup agar kuat menjalani seluruh rangkaian terapi dan pemulihan.
Sebelum mencoba pola makan apa pun, berkonsultasi dengan dokter dan ahli gizi tetap menjadi langkah yang paling aman. 1,2,7.

Referensi
- Muscaritoli M, Arends J, Bachmann P, Baracos V, Barthelemy N, Bertz H, et al. ESPEN practical guideline: clinical nutrition in cancer. Clin Nutr. 2021;40(5):2898-913. doi:10.1016/j.clnu.2021.02.005
- PDQ Supportive and Palliative Care Editorial Board. Nutrition in cancer care (PDQ®)–health professional version [Internet]. Bethesda (MD): National Cancer Institute; 2024 [cited 2026 May 26]. Available from: https://www.cancer.gov/about-cancer/treatment/side-effects/appetite-loss/nutrition-hp-pdq
- Li Sucholeiki R, Propst CL, Hong DS, George GC. Intermittent Fasting and its impact on toxicities, symptoms and quality of life in patients on active cancer treatment. Cancer Treat Rev. 2024 May;126:102725. doi: 10.1016/j.ctrv.2024.102725
- National Comprehensive Cancer Network. NCCN guidelines for patients: survivorship care for healthy living [Internet]. Plymouth Meeting (PA): National Comprehensive Cancer Network; 2024 [cited 2026 May 26]. Available from: https://www.nccn.org/patients/guidelines/content/PDF/survivorship-hl-patient.pdf
- Arends J, Bachmann P, Baracos V, Barthelemy N, Bertz H, Bozzetti F, et al. ESPEN guidelines on nutrition in cancer patients. Clin Nutr. 2017;36(1):11-48. doi:10.1016/j.clnu.2016.07.015
- Anemoulis M, Vlastos A, Kachtsidis V, Karras SN. Intermittent Fasting in Breast Cancer: A Systematic Review and Critical Update of Available Studies. Nutrients. 2023;15(3):532. doi: 10.3390/nu15030532.
- Macmillan Cancer Support. Answers to common questions about diet and cancer [Internet]. London: Macmillan Cancer Support; 2024 [cited 2026 May 26]. Available from: https://www.macmillan.org.uk/cancer-information-and-support/impacts-of-cancer/healthy-eating-and-cancer/common-questions-about-diet-and-cancer.
