Faktor Risiko yang Memerlukan Skrining Lebih Awal: Siapa Saja yang Perlu Waspada?

BAGIKAN

Deteksi dini kanker terbukti meningkatkan peluang kesembuhan dan memungkinkan terapi yang lebih sederhana dengan efek samping yang lebih kecil.1-4 Secara global, kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia dengan hampir 10 juta kematian per tahun, dan jenis yang paling sering mencakup kanker payudara, paru, kolorektal, dan prostat.4,5

Kabar baiknya, sebagian besar kanker dapat dicegah atau dideteksi pada tahap awal melalui kombinasi perubahan gaya hidup dan skrining yang tepat sasaran.1,2,4 Namun, tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama. Pada kelompok tertentu, perubahan sel dapat berkembang lebih cepat sehingga skrining perlu dimulai lebih awal dibandingkan rekomendasi populasi umum.1,2

Artikel ini merangkum kelompok risiko utama yang perlu mempertimbangkan skrining kanker lebih awal, berdasarkan pedoman lembaga internasional seperti National Cancer Institute (NCI), American Cancer Society (ACS), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan World Health Organization (WHO).1-4

Baca juga : Pilihan Screening Kanker Pertama: Panduan Tepat Memulai Deteksi Dini yang Efektif

1. Riwayat Keluarga dan Faktor Genetik

Ketika Genetik Meningkatkan Risiko Kanker

Memiliki riwayat kanker pada keluarga dekat (orang tua, saudara kandung, atau anak) terutama bila muncul pada usia muda, menandakan adanya kerentanan genetik yang meningkatkan risiko kanker secara bermakna.1,4,5 Pada kelompok dengan riwayat keluarga kuat, banyak pedoman menyarankan skrining dimulai sekitar 10 sampai 15 tahun lebih awal daripada usia rekomendasi untuk populasi umum.1,2 

Mutasi BRCA1/BRCA2

Contoh yang sering dibahas adalah mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, yang secara bermakna meningkatkan risiko kanker payudara dan ovarium sepanjang hidup.1,5 Menurut NCI dan ACS, pembawa mutasi BRCA biasanya dianjurkan untuk menjalani pemantauan lebih intensif dan dimulai pada usia yang lebih muda dibandingkan perempuan tanpa mutasi tersebut.1,2 Strategi yang dapat dipertimbangkan meliputi pemeriksaan payudara berkala oleh tenaga kesehatan, mammografi dan atau MRI payudara sejak usia sekitar 25 sampai 30 tahun, serta konseling genetika untuk menilai pilihan pencegahan yang paling sesuai.1,2

Riwayat kanker kolorektal, kanker prostat, dan beberapa kanker lain pada keluarga dekat juga dapat memajukan usia mulai skrining, misalnya kolonoskopi lebih awal pada keluarga dengan riwayat kanker atau polip kolorektal.1,2,5

2. Usia: Risiko yang Meningkat Seiring Bertambahnya Tahun

Risiko kanker meningkat tajam setelah usia paruh baya karena akumulasi kerusakan DNA dan menurunnya kemampuan perbaikan sel seiring bertambahnya usia.4, Sebagian besar kanker didiagnosis pada usia di atas 50 tahun, sehingga hampir semua pedoman skrining internasional menjadikan usia sebagai titik awal utama.1,2,4

Contoh pedoman ACS:

Sebagai contoh, ACS merekomendasikan skrining kanker kolorektal rutin mulai usia 45 tahun untuk populasi risiko rata-rata, dengan metode seperti kolonoskopi atau tes feses tertentu.2 Skrining kanker payudara dengan mammografi biasanya dimulai pada usia 40 sampai 50 tahun tergantung pedoman yang digunakan dan faktor risiko individu.2,4

Untuk kanker serviks, tes Pap dan atau tes HPV umumnya dimulai sekitar usia 25 tahun pada perempuan yang sudah pernah berhubungan seksual.2,4 Pada individu dengan faktor risiko tambahan seperti riwayat keluarga kuat atau mutasi genetik, skrining sering kali dianjurkan lebih awal dari batas usia umum tersebut.1,2

Baca juga :Prosedur PET Scan Kanker dari Persiapan hingga Tahap Pemeriksaan

3. Penggunaan Tembakau dan Alkohol

Merokok: Faktor Risiko Kanker yang Paling Terbukti

Merokok adalah salah satu faktor risiko kanker yang paling kuat dan paling dapat dicegah, terutama untuk kanker paru-paru, tetapi juga berbagai kanker lain seperti kanker mulut, tenggorokan, pankreas, kandung kemih, dan serviks.3,4

WHO dan CDC menegaskan bahwa merokok dan paparan asap rokok pasif berkontribusi besar terhadap kematian akibat kanker paru di seluruh dunia.3,4 Untuk perokok berat atau mantan perokok, banyak pedoman internasional merekomendasikan skrining kanker paru menggunakan low dose CT atau LDCT.1-3 CDC dan USPSTF, yang diadopsi juga dalam berbagai pedoman klinis, menganjurkan LDCT tahunan bagi orang berusia 50 sampai 80 tahun dengan riwayat merokok minimal sekitar satu bungkus per hari selama 20 tahun, dan masih merokok atau berhenti kurang dari 15 tahun.3 Diskusi bersama dokter penting untuk menimbang manfaat dan risiko LDCT, termasuk kemungkinan temuan palsu positif dan paparan radiasi dosis rendah.1,3

Alkohol dan Risiko Kanker

Konsumsi alkohol jangka panjang, terutama dalam jumlah sedang hingga tinggi, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker hati, mulut, tenggorokan, kerongkongan, kolorektal, dan payudara.4,5 Pada individu dengan kebiasaan minum alkohol berat, terutama bila disertai infeksi hati kronis atau sirosis, dokter sering mempertimbangkan pemantauan fungsi hati dan pencitraan lebih sering untuk mendeteksi kelainan lebih dini.1,4,5

4. Paparan Karsinogen Lingkungan

Paparan jangka panjang terhadap zat zat karsinogen di lingkungan kerja maupun tempat tinggal dapat mempercepat terjadinya perubahan sel yang berujung pada kanker.4,5 

Asbes

Contoh karsinogen yang sudah terbukti antara lain asbes, beberapa logam berat seperti arsenik dan kadmium, asap dari pembakaran, serta radon dan polusi udara.4 Paparan asbes, terutama pada pekerja industri tertentu, meningkatkan risiko mesotelioma dan kanker paru, dan risiko ini meningkat tajam bila disertai kebiasaan merokok.4,5

Logam Berat (arsenik, kadmium)

Paparan logam berat tertentu dapat meningkatkan risiko kanker kulit, paru, dan kandung kemih, sehingga pekerja dengan paparan tinggi perlu pemantauan kesehatan berkala.4,5

Paparan Sinar UV

Paparan sinar ultraviolet atau UV berlebihan, baik dari matahari maupun tanning bed, meningkatkan risiko kanker kulit termasuk melanoma, terutama pada individu berkulit cerah.4 Pada kelompok berisiko tinggi, skrining berupa pemeriksaan kulit menyeluruh secara berkala serta edukasi untuk memeriksa tahi lalat sendiri di rumah dianjurkan untuk mendeteksi perubahan mencurigakan lebih dini.1,4

5. Obesitas dan Gaya Hidup Tidak Sehat

Berat badan berlebih dan obesitas dikaitkan dengan peradangan kronis tingkat rendah, gangguan keseimbangan hormon, serta resistensi insulin yang semuanya dapat berkontribusi terhadap perkembangan berbagai jenis kanker.4,5 WHO memperkirakan bahwa kombinasi pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan kelebihan berat badan menyumbang porsi besar dari kematian akibat kanker di seluruh dunia.4

Kanker yang berhubungan dengan obesitas:

Kanker yang sering dikaitkan dengan obesitas antara lain kanker kolorektal, kanker payudara pasca menopause, kanker ginjal, pankreas, dan endometrium.4,5 Pada individu dengan obesitas, dokter umumnya lebih waspada terhadap gejala awal kanker dan lebih menekankan pentingnya skrining teratur, misalnya skrining kolorektal dan evaluasi faktor risiko metabolik seperti diabetes dan dislipidemia.1,2,4

Perubahan gaya hidup sehat seperti meningkatkan aktivitas fisik, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, menghindari makanan ultra proses, serta menjaga berat badan ideal dapat menurunkan risiko sejumlah kanker sekaligus mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes.4

6. Infeksi Kronis, Kondisi Medis, dan Faktor Jaringan

Beberapa infeksi kronis berperan penting dalam terjadinya kanker, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.4 

HPV (Human Papillomavirus)

Infeksi human papillomavirus atau HPV risiko tinggi berkaitan erat dengan kanker serviks, anus, penis, dan beberapa kanker kepala leher, sehingga vaksinasi HPV dan skrining serviks teratur sangat dianjurkan.2,4 WHO melaporkan bahwa infeksi seperti HPV dan hepatitis B atau C menyumbang sekitar sepertiga kasus kanker di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah.4

Baca juga : Kanker Serviks dan Pentingnya Vaksin HPV bagi Perempuan

Hepatitis B/C

Infeksi hepatitis B dan C kronis meningkatkan risiko kanker hati, terutama bila sudah menimbulkan sirosis atau kerusakan hati berat.4,5 Pada kelompok ini, pemantauan berkala dengan pemeriksaan darah fungsi hati dan pencitraan seperti USG hati secara teratur sangat dianjurkan untuk mendeteksi kanker pada stadium awal yang masih dapat ditangani lebih efektif.1,4

Jaringan Payudara Padat (Dense Breast Tissue)

Faktor kondisi jaringan tubuh juga berpengaruh, misalnya jaringan payudara yang sangat padat atau dense breast yang membuat lesi kanker lebih sulit terlihat pada mammografi sekaligus dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara.2,4 Pada perempuan dengan jaringan payudara padat, dokter kadang menambahkan USG atau MRI payudara sebagai pemeriksaan pelengkap tergantung penilaian risiko menyeluruh.1,2

Mengapa Mengidentifikasi Risiko Itu Penting?

Pendekatan modern dalam pencegahan dan deteksi dini kanker semakin bergerak menuju skrining berbasis risiko, bukan hanya berdasarkan usia kronologis semata.1,2,4

Dengan menilai faktor seperti riwayat keluarga, mutasi genetik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, obesitas, infeksi kronis, paparan lingkungan, dan karakteristik jaringan tubuh, dokter dapat menyesuaikan jenis dan waktu mulai skrining agar manfaatnya maksimal.1-5

Deteksi dini memberikan kesempatan lebih besar untuk pengobatan kuratif, menurunkan kebutuhan terapi yang agresif, dan meningkatkan kualitas hidup penyintas kanker.1,4,5

Sebaliknya, keterlambatan diagnosis sering menyebabkan kanker ditemukan pada stadium lanjut ketika pilihan terapi lebih terbatas dan angka kesembuhan menurun.4,5

Bagi masyarakat umum, langkah praktis yang dapat dilakukan meliputi mengenali faktor risiko pribadi, berdiskusi dengan dokter mengenai kebutuhan skrining lebih awal, mengikuti jadwal skrining yang dianjurkan, dan menjalankan perubahan gaya hidup sehat untuk menurunkan risiko secara keseluruhan.1,2,4

Dengan memahami faktor risiko dan mengambil langkah tepat waktu, Anda dapat berperan aktif melindungi diri dan keluarga dari dampak jangka panjang kanker.1,4

Daftar Pustaka

  1. National Cancer Institute. Cancer Screening Overview (PDQ(R)) Patient Version. Bethesda (MD): National Cancer Institute [Internet]. 2024 [Cited 2025 December 19]. Available from: https://www.cancer.gov/about-cancer/screening/screening-tests
  2. American Cancer Society. Guidelines for the early detection of cancer. Atlanta (GA): American Cancer Society [Internet]. 2024 [Cited 2025 December 19]. Available from: https://www.cancer.org/cancer/screening/american-cancer-society-guidelines-for-the-early-detection-of-cancer.html
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Screening for lung cancer. Atlanta (GA): Centers for Disease Control and Prevention [Internet].  2024 [Cited 2025 December 19]. Available from: https://www.cdc.gov/lung-cancer/screening/index.html
  4. World Health Organization. Cancer. Geneva: World Health Organization [Internet].  2025 [Cited 2025 December 19]. Available from:  https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer
  5. Islami F, Ward EM, Sung H, Cronin KA, Tangka FKL, Sherman RL, et al. Annual report to the nation on the status of cancer, part 1: national cancer statistics. J Natl Cancer Inst. 2021;113(12):1648-1669.
Hubungi Kami: +62811 1707 0111