Deteksi kanker pada tahap sangat awal semakin mungkin dilakukan berkat berkembangnya berbagai metode pemeriksaan yang tidak memerlukan sayatan, operasi besar, atau pengambilan jaringan secara langsung (non-invasif), seperti pemeriksaan darah (biopsi cair), pencitraan medis (CT scan, MRI, PET scan, USG), serta analisis cairan tubuh lain seperti saliva dan urine.1-3
Pendekatan non-invasif ini membantu menemukan perubahan sel yang berpotensi menjadi kanker sebelum gejala muncul, sehingga terapi bisa dimulai lebih cepat dan angka harapan hidup pasien meningkat secara bermakna.1,2
Selain itu, pemeriksaan non-invasif umumnya lebih nyaman, dapat diulang berkali-kali untuk memantau perjalanan penyakit, dan relatif lebih mudah diakses dibanding prosedur biopsi jaringan tradisional yang bersifat invasif.1,3
Baca juga : Cara Periksa Kanker Pertama Kali: Panduan Lengkap Deteksi Dini
Mengapa Pendekatan Non-Invasif Penting?
Biopsi jaringan tetap merupakan standar emas untuk menegakkan diagnosis pasti kanker, namun prosedur ini membutuhkan tindakan invasif, tidak selalu bisa dilakukan pada semua lokasi tumor, dan biasanya hanya mewakili sebagian kecil dari jaringan tumor.2,3
Selain itu, karakteristik genetik dan biologis tumor dapat berubah dari waktu ke waktu dan berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lain dalam tubuh, sehingga satu kali biopsi jaringan saja sering kali tidak cukup menggambarkan kondisi tumor secara menyeluruh.2,3
Di sinilah metode non-invasif berperan: dengan memanfaatkan sampel darah, cairan tubuh lain, atau pencitraan berulang, dokter dapat memantau perubahan tumor secara dinamis dengan risiko yang jauh lebih kecil bagi pasien.2-4
Baca juga : Pilihan Screening Kanker Pertama: Panduan Tepat Memulai Deteksi Dini yang Efektif
1. Biopsi Cair (Liquid Biopsy)
Biopsi cair adalah pemeriksaan non-invasif yang biasanya menggunakan sampel darah untuk mencari jejak sel atau materi genetik kanker yang dilepaskan ke dalam sirkulasi.2,3
Berbeda dengan biopsi jaringan yang mengambil potongan tumor secara langsung, biopsi cair hanya membutuhkan pengambilan darah melalui jarum seperti pemeriksaan laboratorium biasa.1,3
Di dalam darah, beberapa komponen yang dapat menjadi penanda kanker antara lain:2-4
- DNA tumor yang beredar (circulating tumor DNA, ctDNA), yaitu potongan kecil materi genetik kanker yang dilepaskan saat sel tumor mati atau rusak.2,3
- Sel tumor yang beredar (circulating tumor cells, CTC), yaitu sel kanker utuh yang terlepas dari tumor primer dan masuk ke aliran darah.2,3
- Vesikel ekstraseluler dan eksosom, yaitu kantung kecil berisi protein dan materi genetik yang dikeluarkan sel kanker dan dapat membawa informasi tentang perilaku tumor.2-4
- Protein dan biomarker lain yang kadarnya berubah pada beberapa jenis kanker.2,3
Melalui analisis komponen-komponen tersebut, biopsi cair dapat membantu:2,3
- Memantau respons terhadap terapi, misalnya jumlah atau kadar ctDNA turun setelah pengobatan yang efektif.2,3
- Mendeteksi kekambuhan lebih awal, bahkan sebelum tampak jelas pada pemeriksaan pencitraan.2,3
- Mengidentifikasi mutasi genetik penting yang dapat menentukan pilihan obat target atau imunoterapi.3
- Dalam jangka panjang, dikembangkan sebagai alat skrining multi-kanker yang berpotensi mendeteksi berbagai jenis kanker dari satu kali pemeriksaan darah, meski saat ini masih dalam tahap penelitian dan uji klinik untuk banyak aplikasi.2,3
Pada beberapa kanker tertentu, tes berbasis biopsi cair sudah mulai digunakan di praktik klinis untuk membantu memilih terapi dan memantau penyakit, namun ketersediaan dan cakupan jenis kankernya masih terbatas dan terus berkembang.3
2. Tes Pencitraan Non-Invasif
Pemeriksaan pencitraan medis merupakan tulang punggung deteksi dan penilaian kanker secara non-invasif. Setiap modalitas memiliki keunggulan dan keterbatasan, dan sering kali digunakan saling melengkapi.1,2
CT scan menggunakan sinar-X dan komputer untuk menghasilkan potongan gambar tubuh yang sangat detail, sehingga membantu mendeteksi benjolan atau kelainan di paru-paru, rongga perut, kepala, dan banyak organ lainnya. Pada kelompok berisiko tinggi tertentu, CT dosis rendah dapat digunakan sebagai bagian dari program skrining kanker paru.1,2
MRI memanfaatkan medan magnet kuat dan gelombang radio untuk membuat gambaran organ dan jaringan lunak dengan resolusi tinggi tanpa paparan radiasi. Pemeriksaan ini sangat berguna untuk menilai otak, sumsum tulang belakang, payudara, prostat, dan jaringan lunak lainnya.1,2
PET-CT menggabungkan informasi fungsi dan struktur tubuh dengan cara menyuntikkan zat radioaktif dosis rendah yang akan terkumpul di jaringan dengan aktivitas metabolik tinggi, seperti sel kanker. Pemeriksaan ini membantu menilai penyebaran kanker dan memantau respons terhadap terapi.1,2
USG menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar organ secara real time tanpa radiasi. Pemeriksaan ini sering digunakan sebagai penilaian awal pada organ perut, panggul, payudara tertentu, dan kelenjar tiroid.1,2
Pada kelompok berisiko tinggi, beberapa modalitas pencitraan ini dapat menjadi bagian dari strategi deteksi dini, misalnya CT dosis rendah pada perokok berat tertentu atau USG hati berkala pada pasien dengan penyakit hati kronis.1,2
Baca juga : Prosedur PET Scan Kanker dari Persiapan hingga Tahap Pemeriksaan
3. Analisis Saliva dan Urine
Selain darah, cairan tubuh lain seperti saliva dan urine juga mengandung molekul yang dapat mencerminkan adanya proses keganasan di dalam tubuh.2,3
Dalam saliva, peneliti menemukan berbagai biomarker seperti mikroRNA, DNA, protein, dan metabolit yang dapat berkaitan dengan kanker rongga mulut maupun kanker kepala-leher.2
Pada urine, beberapa penanda sudah digunakan atau sedang diteliti untuk membantu mendeteksi kanker prostat, kanker kandung kemih, dan gangguan lain pada saluran kemih, karena urine langsung bersentuhan dengan jaringan yang mengalami perubahan.2,3
Kelebihan analisis saliva dan urine adalah pengambilan sampel yang sangat mudah dan tidak menimbulkan nyeri, sehingga berpotensi digunakan untuk skrining populasi luas bila akurasi tes sudah terbukti memadai.2,3
Saat ini, banyak tes berbasis saliva dan urine yang masih berada pada tahap penelitian atau digunakan di pusat-pusat tertentu sebagai pelengkap pemeriksaan darah dan pencitraan.2,3
4. Spektroskopi Raman
Spektroskopi Raman adalah teknik optik yang menggunakan cahaya laser untuk “membaca” getaran molekul pada suatu sampel. Setiap jenis molekul memiliki pola getaran khas yang dapat dianggap sebagai sidik jari kimiawi.2,4
Dalam konteks kanker, teknologi ini, termasuk pengembangan surface-enhanced Raman spectroscopy (SERS), dapat digunakan untuk menganalisis darah, urine, atau cairan tubuh lain dan mencari pola spektrum yang khas pada kanker tertentu.2,4
Keunggulan utama teknologi ini adalah sensitivitas yang sangat tinggi dan kemampuan menganalisis banyak komponen sekaligus, sehingga berpotensi menjadi platform pemeriksaan non-invasif untuk deteksi kanker stadium sangat awal di masa depan.2,4
Namun hingga kini, sebagian besar penggunaan spektroskopi Raman untuk kanker masih berada pada ranah penelitian dan prototipe, dan belum menjadi bagian dari pemeriksaan skrining rutin sehari-hari.2,4
Kesimpulan: Peran Pemeriksaan Non-Invasif bagi Pasien
Metode non-invasif untuk deteksi kanker dini, mulai dari biopsi cair, pencitraan medis, analisis saliva dan urine, hingga teknologi optik seperti spektroskopi Raman, sedang berkembang sangat pesat dan berkontribusi besar dalam upaya menemukan kanker pada tahap yang masih dapat diobati secara optimal.1-4
Bagi pasien, pemeriksaan ini tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter, tetapi menjadi alat bantu penting untuk menilai risiko, menegakkan diagnosis, memilih terapi, dan memantau hasil pengobatan.1,3
Tidak semua orang memerlukan semua jenis pemeriksaan di atas; jenis dan frekuensi pemeriksaan perlu dipersonalisasi berdasarkan usia, faktor risiko, riwayat keluarga, serta kondisi medis lain. Diskusikan dengan dokter Anda tentang pilihan skrining dan pemantauan yang paling sesuai bagi Anda.
Baca juga : Kapan Harus ke Dokter untuk Cek Kanker: Panduan Penting untuk Deteksi Dini
Referensi
- Mayo Clinic. Cancer diagnosis and treatment. [Internet]. 2024 [Cited 2025 December 19]. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cancer/diagnosis-treatment/drc-20370594
- Chacko N, Ankri R. Non-invasive early-stage cancer detection: current methods and future perspectives. Clin Exp Med. 2025;25(1):17. doi:10.1007/s10238-024-01513-x.
- Ma L, Guo H, Zhao Y, Liu Z, Wang C, Bu J, et al. Liquid biopsy in cancer current: status, challenges and future prospects. Signal Transduct Target Ther. 2024;9(1):336.
- Zhang Y, Mi X, Tan X, Xiang R. Recent progress on liquid biopsy analysis using surface-enhanced Raman spectroscopy. Theranostics. 2019;9(2):491-525. doi:10.7150/thno.29875.
