Mitos dan Fakta Vaksin HPV: Klarifikasi Ilmiah Berbasis Bukti

BAGIKAN

Vaksin Human papillomavirus (HPV) merupakan intervensi pencegahan primer yang efektif dan aman untuk menurunkan risiko berbagai kanker yang berkaitan dengan infeksi virus tersebut. Namun, di tengah manfaat ilmiahnya yang kuat, masih banyak mitos yang beredar dan berpotensi menghambat cakupan vaksinasi. Artikel ini membedah satu per satu mitos yang paling sering muncul, sekaligus menyajikan fakta berbasis bukti ilmiah dan rujukan otoritas kesehatan global.

Baca juga : Dosis dan Jadwal Pemberian Vaksin HPV

Mitos 1: Pap smear sudah efektif, jadi tidak perlu vaksinasi

Faktanya:

Pap smear memang efektif sebagai metode screening kanker serviks, tetapi screening ini hanya tersedia untuk satu jenis kanker. Hingga saat ini, tidak ada screening rutin untuk kanker lain yang juga disebabkan oleh Human papillomavirus, seperti kanker vulva, vagina, anus, penis, dan orofaring.1

Perlu dipahami bahwa screening merupakan pencegahan sekunder, yaitu mendeteksi lesi prakanker atau kanker sejak dini. Sebaliknya, vaksinasi HPV berperan sebagai pencegahan primer yang bertujuan mencegah infeksi Human papillomavirus sebelum penyakit berkembang. 2

Baca juga : Apa itu HPV DNA dan Perbedaanya dengan Pap Smear

Mitos 2: Vaksin HPV masih baru sehingga belum ada data keamanan dan efikasi jangka panjang

Faktanya:

Vaksin HPV bukan teknologi baru. Vaksin ini telah digunakan secara global selama sekitar 25 tahun, dengan lebih dari 15 tahun data dunia nyata dan ratusan juta dosis yang telah didistribusikan. 1 Efek samping yang mungkin terjadi, seperti nyeri lokal atau demam ringan, telah terdokumentasi dengan baik dan bersifat sementara. Keamanan serta efikasi vaksin HPV telah dikonfirmasi oleh World Health Organization (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan berbagai otoritas kesehatan nasional di banyak negara. 2,3

Mitos 3: Vaksin HPV dapat menyebabkan kegagalan ovarium

Faktanya:

Pemantauan populasi besar yang melibatkan sekitar satu juta perempuan tidak menemukan hubungan antara vaksin HPV dan kegagalan ovarium. 1 Bukti epidemiologis yang tersedia secara konsisten menunjukkan bahwa fungsi ovarium tidak terpengaruh oleh vaksinasi HPV. 1

Baca juga : Apakah Vaksin HPV Bisa Menyebabkan Mandul?

Mitos 4: Vaksin menyebabkan penyakit autoimun, gangguan saraf, dan kematian

Faktanya:

Studi observasional berskala besar menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit autoimun, gangguan neurologis, maupun kematian serupa antara populasi yang menerima vaksin HPV dan yang tidak divaksin.3 Tidak ada peningkatan risiko yang dapat dikaitkan secara kausal dengan vaksinasi HPV. 3

Mitos 5: Anak belum aktif secara seksual, jadi tidak perlu divaksin sejak dini

Faktanya:

Justru semakin dini vaksin HPV diberikan, semakin optimal respons imun yang terbentuk. Pemberian vaksin pada anak sebelum usia 15 tahun membutuhkan jumlah dosis yang lebih sedikit dan menghasilkan perlindungan imun yang lebih kuat. Vaksinasi dini memastikan perlindungan sudah terbentuk jauh sebelum potensi paparan virus terjadi. 2

Mitos 6: Anak laki-laki dan pria tidak bisa terkena kanker serviks, jadi tidak memerlukan vaksin

Faktanya:

Human papillomavirus tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks. Virus ini juga berperan dalam kanker vulva, vagina, anus, penis, dan orofaring yang dapat menyerang perempuan maupun laki-laki. Pendekatan vaksinasi netral gender memberikan perlindungan populasi yang paling optimal (herd immunity), tanpa memandang jenis kelamin atau orientasi seksual, baik saat ini maupun di masa depan.1

Baca juga : Perlukah Pria Mendapatkan Vaksin HPV?

Mitos 7: Setelah hubungan seksual pertama, vaksin tidak lagi efektif

Faktanya:

Dalam uji klinis, sebagian besar perempuan muda yang menjadi partisipan sudah aktif secara seksual, namun tingkat perlindungan vaksin tetap berada di atas 90 persen. 3 Data efikasi vaksin HPV juga tersedia hingga usia 45 tahun. Bahkan setelah menjalani terapi penyakit terkait HPV, vaksin masih berpotensi menurunkan risiko kekambuhan atau penyakit berulang. 1,3

Mitos 8: Infeksi HPV alami sudah membentuk antibodi pelindung, sehingga vaksin tidak diperlukan

Faktanya:

Respons antibodi setelah infeksi Human papillomavirus alami umumnya rendah dan tidak konsisten. Sebaliknya, vaksin HPV dirancang untuk menghasilkan respons imun yang jauh lebih kuat dan stabil, sehingga memberikan perlindungan yang lebih optimal terhadap berbagai penyakit terkait HPV. 2

Mitos 9: Vaksin HPV meningkatkan perilaku seksual berisiko

Faktanya:

Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa vaksin HPV mendorong atau meningkatkan perilaku seksual berisiko. Berbagai studi longitudinal menunjukkan bahwa vaksinasi tidak memengaruhi usia pertama hubungan seksual maupun jumlah pasangan seksual. 1

Kesimpulan

Mitos seputar vaksin HPV sering kali berakar pada informasi yang tidak lengkap atau keliru. Bukti ilmiah selama puluhan tahun menunjukkan bahwa vaksin HPV aman, efektif, dan berperan krusial dalam pencegahan berbagai kanker. Pendekatan berbasis data dan rekomendasi otoritas kesehatan global menjadi landasan penting untuk meningkatkan kepercayaan dan cakupan vaksinasi. Investasi pada vaksinasi HPV bukan sekadar keputusan individual, tetapi langkah strategis kesehatan masyarakat untuk menurunkan beban kanker di masa depan.

Baca juga : Vaksin HPV Bisa Didapat di Mana?

Daftar Pustaka

  1. Taumberger N, Joura EA, Arbyn M, Kyrgiou M, Sehouli J, Gultekin M, et al. Myths and fake messages about human papillomavirus vaccination: answers from the ESGO Prevention Committee. Int J Gynecol Cancer. 2022;32(10):1316-1320.
  2. World Health Organization. Human papillomavirus vaccines: WHO position paper. Wkly Epidemiol Rec. 2017;92(19):241-268.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. HPV vaccine safety and effectiveness [Internet]. Atlanta (GA): Centers for Disease Control and Prevention; 2023 [cited 2025 Jan 21]. Available from: https://www.cdc.gov/hpv/hcp/vaccine-safety-data.html
  4. Jefferson Health. Six common HPV vaccine myths debunked [Internet]. Philadelphia (PA): Jefferson Health; [cited 2025 Jan 21]. Available from: https://www.jeffersonhealth.org/your-health/living-well/six-common-hpv-vaccine-myths-debunked
Hubungi Kami: +62811 1707 0111